200.000 Warga Palestina Sholat Jumat Ke-2 Ramadhan di Masjid Al Aqsha

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Ratusan ribu umat Islam dari Tepi Barat yang diduduki zionis Yahudi Israel dan Yerusalem Timur berkumpul di kompleks Masjid Al-Aqsha kemarin untuk melaksanakan sholat Jumat kedua di bulan puasa Ramadhan, lansir Anadolu Agency, Jumat (17/06/2016).
Hanya laki-laki yang berusia lebih dari 45 dan anak-anak di bawah 12 tahun – bersama dengan wanita dari segala usia – yang diizinkan oleh pasukan penjajah Israel untuk memasuki Yerusalem Timur tanpa surat izin masuk.
Pihak militer zionis, sementara itu, meningkatkan penjagaannya di sekitar lokasi flashpoint, mengerahkan lebih dari 3.500 polisi dan mendirikan penghalang jalan di pintu masuk Kota Tua Yerusalem.
Mereka juga mengerahkan helikopter dan balon pengawasan untuk memantau situasi di dalam dan sekitar kompleks masjid.
Salem al-Natsheh, penduduk berusia 53 tahun dari kota Hebron, Tepi Barat, mengatakan kepada Anadolu Agency: “Ini kedua kalinya saya sholat di Al-Aqsha Ramadhan ini, dan butuh lebih dari enam jam untuk memasuki Yerusalem dikarenakan langkah-langkah penjagaan militer Israel.”
Rokaya Orabi, 33 tahun, dari kota Ramallah, Tepi Barat, mengatakan bahwa dia hanya diizinkan untuk memasuki Yerusalem setelah digeledah oleh tentara Israel.
“Tiga anak saya juga dikenakan tindakan serdadu Israel,” kata Orabi kepada Anadolu Agency, menambahkan bahwa ia juga membawa serta cucunya yang berusia delapan tahun menuju Al-Aqsha, “yang melihat Yerusalem untuk pertama kali dalam hidupnya.”
Sheikh Azzam al-Khatib, direktur jenderal Otoritas Palestina untuk Wakaf Keagamaan dan Urusan Al-Aqsha, (the Authority for Religious Endowments and Al-Aqsa Affairs) mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa ternyata terdapat sekitar 200.000 jamaah yang sholat di Al-Aqsha untuk Jumat kedua Ramadhan.
![]()
“Kami mengharapkan sedikitnya 150.000 jamaah berbuka puasa dan Shalat Taraweh di Al-Aqsa,” katanya.
Sekitar 200 warga Jalur Gaza yang diblokade – seluruhnya berusia 60 tahun – juga diizinkan untuk memasuki Yerusalem pada hari Jumat, setelah pekan lalu dilarang sebagai balasan serangan penembakan di Tel Aviv yang menewaskan empat warga Israel.
“Saya berangkat dari Jalur Gaza dengan suami saya saat fajar,” Amena Abu al-Eaish, penduduk berusia 66 tahun dari Kota Gaza mengatakan kepada Anadolu Agency.
“Saya berencana untuk sholat Jumat di Masjid Al-Aqsha dan menghabiskan sisa hari di sana membaca Quran,” katanya.
Israel menjajah Yerusalem Timur dan Tepi Barat selama Perang Timur Tengah 1967. Israel kemudian menganeksasi kota pada tahun 1980, mengklaimnya sebagai ibukota terpadu dari negara zionis Yahudi yang memproklamirkan diri sendiri – sebuah langkah yang tidak pernah diakui masyarakat internasional.
Hukum internasional memandang Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai wilayah yang dijajah, sehingga semua pembangunan pemukiman Yahudi di tanah tersebut adalah tidak sah.
Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam


