Inilah Pertemuan Pertama Rezim Suriah dan Oposisi dalam Pembicaraan Damai di Jenewa

JENEWA (Jurnalislam.com) – Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura mendesak pihak yang berperang untuk bertemu tatap muka pertama kalinya selama tiga tahun dalam pembicaraan damai untuk mengakhiri konflik hampir enam tahun di Suriah pada hari Kamis (23/02/2017).
“Rakyat Suriah sangat ingin mengakhiri konflik ini dan Anda semua tahu itu. Anda adalah orang-orang pertama yang memberitahu kami,” de Mistura mengatakan kepada kedua delegasi di aula pertemuan PBB di Jenewa, lansir Anadolu Agency Kamis.
Pembicaraan sedang berlangsung dengan partisipasi wakil-wakil dari the International Syria Support Group, yang meliputi Turki, AS, Rusia dan Iran.
“Mereka menunggu bantuan untuk mengobati penderitaan mereka dan mengimpikan jalan baru keluar dari mimpi buruk menuju masa depan yang nyata dan normal dalam martabat,” tambah de Mistura.
“Saya tidak mengharapkan keajaiban. Kami menghadapi tugas berat. Ini tidak akan mudah karena ada banyak ketegangan dan ada banyak penderitaan yang dialami semua orang. Kita harus menyerahkan diri kita sendiri untuk tugas ini,” de Mistura mengatakan.
Babak keempat pembicaraan intra-Suriah dimulai di Jenewa pada Kamis, menandai pertama kalinya delegasi rezim Suriah dan oposisi kembali ke kota Swiss itu sejak perundingan dihentikan April lalu.
Pada pembicaraan tersebut, de Mistura harus bertemu secara terpisah dengan delegasi kedua belah pihak Suriah yang bertentangan tersebut.
Pada hari pertama pembicaraan, de Mistura bertemu secara terpisah dengan delegasi rezim Suriah, yang dipimpin oleh Bashar al-Ja’aafari dan delegasi oposisi Suriah, yang dipimpin oleh Nasr Hariri, anggota senior kelompok oposisi terbesar, Koalisi Nasional Suriah.
Pada hari Rabu, delegasi oposisi utama Suriah meminta diskusi langsung dengan perwakilan pemerintah.
“Kami ingin pembicaraan langsung, negosiasi langsung. Hal ini cukup untuk rakyat Suriah. Saya berharap melihat mitra yang serius,” juru bicara Komite Negosiasi Tinggi (High Negotiations Committee-HNC) Salem al-Muslat mengatakan kepada wartawan di Jenewa pada malam pembicaraan dengan rezim Suriah dan oposisi.
Mengkritik delegasi rezim, Muslat mengatakan: “Mereka berada di sini tidak untuk benar-benar bernegosiasi tentang transisi politik tetapi mereka berada di sini hanya untuk membeli waktu dan melakukan lebih banyak kejahatan di Suriah. Tidak ada kepercayaan dalam rezim ini.”
Dia juga mengatakan “Iran adalah negara pendukung rezim Suriah” dan “tidak bisa menjadi negara penjamin”.
Utusan PBB mengatakan pada hari Rabu ia tidak mengharapkan terobosan dalam pembicaraan pekan ini dan akan menolak prasyarat apapun menjelang perundingan. Perundingan akan fokus pada pemilihan umum yang baru, konstitusi baru dan pemerintahan baru di Suriah.
De Mistura juga mengatakan Rusia meminta pemerintah Suriah untuk menghentikan pemboman selama pembicaraan.
“Hari ini, Federasi Rusia mengumumkan mereka secara resmi telah meminta pemerintah Suriah untuk menghentikan serangan udara mereka selama pembicaraan intra-Suriah,” de Mistura mengatakan.
Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad menumpas para pengunjuk rasa dengan keganasan militer tak terduga.
Sejak itu, lebih dari seperempat juta orang telah tewas dan lebih dari 10 juta lainnya menjadi pengungsi di seluruh negara yang dilanda perang, menurut PBB. Pusat Penelitian Kebijakan Suriah melaporkan jumlah korban tewas lebih dari 470.000.


