Debat Capres dan Teori Semiotik
Ditulis oleh: Muhammad Fajar Aditya, mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Serang Raya, Jurnalis Jurnalislam.com
JURNALISLAM.COM – Baru beberapa hari debat Capres-cawapres Indonesia periode 2019-2024 digelar. Seperti hukum fisika, ada aksi timbul pula reaksi.
Tidak sedikit masyarakat yang mengomentari aksi panggung calon pimpinan negara selama dua jam ini. Salah satunya bahasa komunikasi simbol yang biasa disebut semiotik.
Stephen W. Littlejohn dalam bukunya Teori Komunikasi menjelaskan, semiotik atau penyelidikan simbol-simbol, membentuk tradisi pemikiran yang penting.
Semiotik berbicara tentang bagaimana tanda-tanda mempresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri.
Konsep dasarnya adalah tanda yang didefinisikan sebagai stimulus yang menandakan atau menunjukkan beberapa kondisi lain.
Selain itu, semiotik telah menjadi hal penting yang membantu kita dalam memahami apa yang terjadi dalam pesan dan bagaimana semua bagian itu disusun.
Di dalam ilmu atau tradisi semiotik, ada teori khusus yang mempelajari tentang simbol dari Susanne Langer.
Menurut Langer, semua binatang yang hidup didominasi oleh perasaan, tetapi perasaan manusia dimediasikan oleh konsepsi, simbol, dan bahasa. Binatang merespon tanda, tetapi manusia menggunakan lebih dari sekadar tanda sederhana dengan mempergunakan simbol.
Menelisik Komunikasi Simbol Debat Capres-cawapres
Agaknya bosan jika terus membahas teori, mari kita melanjutkan kepada substansi. Dalam catatan penulis setidaknya ada beberapa bahasa simbolik yang disajikan pada debat yang dinilai ‘agak’ membosankan dan normatif tersebut.
Pada saat sesi penyampaian visi dan misi pada tema hukum dan Ham, ada perbedaan yang cukup signifikan, yakni paslon 1 yang terdiri dari petahana Joko Widodo dan Ma’ruf Amin terlihat beberapa kali membaca teks sedangkan paslon 2 yang terdiri dari Prabowo dan Sandiaga Salahuddin Uno tidak. Ini menunjukkan kesiapan dari kedua belah pihak.
Selanjutnya, Sandiaga Uno kerap kali dalam pidato dan tanggapannya menggunakan kalimat ‘dibawah Prabowo-Sandi’. Ini merupakan pesan kepada masyarakat untuk meyakinkan terhadap kepastian janji.
Masih dalam sesi yang sama, ketika Paslon 1 diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato yang diwakili Jokowi, masih tersisa 40 detik untuk dimanfaatkan, namun Ma’ruf Amin mengatakan cukup dan mendukung.
Ini menunjukkan mantan ketua MUI seperti diatur untuk tidak banyak berbicara dalam tema tertentu. Benar saja, dikemudian hari banyak media yang memberitakan hal ini.
Baru pada sesi setelah hukum, yakni Ham Ma’ruf berbicara melengkapi Jokowi, namun dalam waktu kurang dari 1 menit ini, ia terlihat bertele-tele dan lamban. Ini menunjukkan kiai masih belum siap dan masih mengikuti alur debat.
Mari kita lanjutkan dalam tema terorisme, Paslon 1 yang diwakili Ma’ruf berbicara dengan mengaitkan dengan agama Islam seperti perkataan ‘Bukan Jihad, haram’. Ini menunjukkan kategori terorisme lebih kearah umat Islam.
Prabowo yang diberikan kesempatan untuk menanggapi dengan gaya tegas dia mengatakan ketidaksetujuan stigmatisasi teroris kepada umat Islam. Ini menunjukkan ketegasannya bahwa terorisme bisa dilakukan oleh siapa saja, dan dari agama serta latarbelakang apa pun.
Pada saat Ma’ruf berpidato terkait terorisme, Jokowi terlihat kerap mengangguk. Ini menunjukkan Jokowi setuju, mendukung, sekaligus menghormati Ma’ruf Amin sebagai salah satu pemuka agama.
Beribcara tentang harmonisasi antar kedua Paslon, Prabowo-Sandi dalam banyak kesempatan terlihat lebih harmonis. Beberapa kali ketika Prabowo berhenti berbicara langsung dilanjutkan oleh Sandi.
Ini menunjukkan kepercayaan utuh yang diberikan Prabowo kepada Sandi untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya mengenai suatu kasus.
Dalam sesi debat, dengan tema korupsi dan terorisme, Jokowi berbicara tentang bekerja bebas dan lepas tanpa beban masa lalu. Ditambah pada saat closing ia berbicara lagi tentang rekam pelanggaran Ham.
Penulis menilai, hal itu ditujukan untuk memancing emosi dari Paslon 2 khususnya Prabowo karena kerap diisukan dengan pelanggaran Ham dimasa lalu.
Momen Joget dan Gulung Lengan Kemeja
Pada saat sesi debat masalah korupsi dan terorisme Jokowi menanyakan terkait isu caleg mantap koruptor ditubuh partai Gerindra. Pada saat itu Prabowo izin untuk interupsi sebelum waktu Jokowi habis.
Sesuai peraturan, moderator tidak mengizinkan dan seketika Prabowo tersenyum dan melakukan aksi joget kecil yang langsung direspon dengan Sandi yang memijatnya.
Ini bisa diartikan berbagai macam, diantaranya Prabowo sedang bergembira terhadap pertanyaan lawan. Bisa juga dia sedang mendinginkan suasana sedang diserang oleh pertanyaan sensitif yang ditujukan bukan hanya kepada pribadinya melainkan partai yang dipimpinnya.
Selain Prabowo, Sandi juga terlihat responsif serta peka terhadap suasana dengan menghampiri Prabowo dan melakukan aksi memijat kecil. Aksi ini juga bisa ditujukan untuk melihatkan kepada masyarakat bahwa dalam debat tidak dalam suasana tegang dan serius selamanya.
Yang terakhir, seusai Jokowi melakukan penutupan, ia menggulung lengan kemeja putihnya. Ini menunjukkan ia siap untuk bekerja nyata kepada rakyat.
Selain itu, aksi tersebut juga dapat diartikan pihaknya siap untuk menghadapi Paslon 2 dengan segenap tenaga dan usahanya hingga 17 April nanti.
Mungkin itu yang dapat penulis lihat dan nilai dalam perspektif semiotik. Rencananya pada debat selanjutnya pihak KPU tidak akan memberikan kisi-kisi seperti debat perdana kali ini.
Mari kita lihat aksi calon pemimpin negara kepulauan ini dalam menyampaikan gagasan dan beretorika. Sehabis itu, mari kita bijaksana dalam memilih sesuai dengan kecakapan kandidat dalam menyampaikan setiap gagasannya.
Gagasan untuk membangun Merah Putih ini dari keterpurukan yang kerap dirasakan oleh masyarakat.



