AqidahArtikel

Semua Berawal Dari Dusta

Oleh: Ustaz Abu Izzuddien Al-Hazimi
Majelis Syariah Jamah Ansharu Syariah

SUATU hari anak saya yang masih umur 4 tahun pernah bilang “Abi bohong” sewaktu saya kelupaan dengan janji saya. Ucapan ini benar-benar membuat saya sangat terkejut, kaget lalu buru-buru saya penuhi janji saya. Saya takut anak saya akan menganggap abinya suka berdusta. Dan kejadian ini tidak bisa saya lupakan sampai hari ini meskipun sudah lewat 12 tahun lalu.

Namun sungguh aneh hari ini ada manusia yang diamanahi sebagai pemimpin dan ia bisa membohongi 260 juta rakyatnya namun masih punya muka memaksakan diri dua periode untuk memimpin bangsanya. Lalu demi memuaskan ambisinya itu ia gunakan segala cara dari mulai kecurangan, culas, mengakali hukum dan undang-undang, memperalat aparat TNI/Polri, menfitnah ulama, memaksa ASN untuk memihak kepadanya, mengumbar janji baru dan puluhan kejahatan lain yang hanya semakin menunjukkan betapa buruk perangainya.

Benar lah sabda baginda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً, وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً. (رواه مسلم)

“Wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan (pelakunya) kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkannya kepada Surga. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.

Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan pelakunya kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada api Neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim no. 6586).

Ya, kebiasaan berdusta telah menuntunnya menuju berbagai kejahatan dan kemaksiatan yang berdampak amat sangat luas. Dan itu kelak akan menjadi penyesalan baginya jika ia tidak bertaubat kepada Allah dan minta maaf kepada semua yang telah dibohongi dan dizhaliminya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Tiga orang yang Allah enggan Berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi Memandang muka mereka, (Dia) tidak akan Membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ) : orang tua yang berzina, penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim)

Kebiasaan berbohong adalah sifat yang tercela dan sangat dibenci oleh Allah. Dan apabila Allah telah membeci seorang hamba, maka Dia akan serukan kebencian (kemarahan) itu kepada malaikat Jibril dan seluruh malaikat penduduk langit. Sehingga mereka semua membencinya pula. Kemudian orang ini dituliskan Allah sebagai seorang yang dibenci di muka bumi.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan jika Allah Membenci seorang hamba, Ia Memanggil Jibril dan berkata kepadanya : “Sesungguhnya Aku membenci si Fulan maka bencilah ia”. Lalu Jibril ikut membencinya. Kemudian Jibril berseru di langit : “Sesungguhnya Allah membenci si Fulan maka bencilah ia oleh kalian. Maka penduduk langit turut membencinya. Kemudian diturunkanlah rasa benci kepadanya di muka bumi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kebinasaan dan kehinaan tidak saja menimpa pemimpin yang zhalim dan pembohong. Akan tetapi juga menimpa orang-orang yang berteman dekat dengannya, dan membenarkan kebohongannya, dan orang yang ikut serta membantu kezalimannya. Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bersabda:

سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ ، مَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ ، وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ ، وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ.

“Akan ada setelah (wafat) ku (nanti) para pemimpin (pembohong). Barangsiapa yang masuk pada mereka, dan membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kezaliman mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak (punya bagian untuk) mendatangi telaga (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kezaliman mereka, maka dia adalah dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telaga (di hari kiamat).” (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan An-Nasaa’i dalam kitab Al-Imaroh).)

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sifat buruk ini.

Wallohu A’lam

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button