Internasional

Tolak Jutaan Dolar dari Saudi, Koalisi Arab Gempur Posisi Houthi dengan Serangan Udara

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pesawat tempur koalisi pimpinan Saudi menggempur posisi Syiah Houthi di Sanaa semalam, hanya beberapa jam setelah utusan PBB untuk Yaman tiba di ibukota yang dikuasai pemberontak  Houthi tersebut, warga mengatakan pada hari Sabtu (30/05/2015).

Di antara target serangan udara adalah rumah presiden terguling Ali Abdullah Saleh di kota kelahirannya, Sanhan, di selatan ibukota.

Serangan udara terbaru juga menargetkan markas angkatan udara yang dikuasai pemberontak  di Sanaa, gudang senjata di Sanhan, serta pangkalan udara Dailami, yang juga terletak di ibukota, saksi mengatakan kepada Agence France-Presse.

Serangan lainnya menargetkan posisi pemberontak Houthi di Marib, provinsi timur yang kaya minyak, dan wilayah barat Hodaidah.

Penyerangan datang hanya beberapa jam setelah utusan khusus PBB Ismail Ould Cheikh Ahmed terbang ke Sana'a untuk melakukan pembicaraan dengan partai-partai politik, menurut sebuah situs yang dijalankan oleh Syiah Houthi.

Sebuah konferensi membahas Yaman yang seharusnya berlangsung di Jenewa Kamis lalu ditunda. Hal itu menjadi pukulan bagi upaya PBB untuk menengahi perdamaian di negara konflik yang telah menewaskan hampir 2.000 orang sejak Maret.

Serangan terjadi setelah Saleh mengatakan, dalam sebuah wawancara yang disiarkan Jumat, bahwa ia menolak tawaran Saudi yang berjumlah "jutaan dolar" untuk menentang pemberontak  yang didukung Iran.

Wawancara itu disiarkan di saluran televisi Al-Mayadeen yang berbasis di Beirut. Presenter mengatakan ia berbicara dari Sanaa.

Dalam wawancara hari Jumat, Saleh kembali menyerukan pembicaraan di Jenewa antara pihak-pihak Yaman, serta negosiasi antara Yaman dan Arab Saudi. Saleh menuduh Arab Saudi berusaha untuk menabur "hasutan" di negara yang sedang dilanda perang tersebut.

Tapi "cepat atau lambat kita akan mengadakan pembicaraan dengan Arab Saudi," kata mantan presiden itu.

Saleh mengatakan bahwa pembicaraan Yaman di Jenewa harus fokus pada "transfer kekuatan, pemilihan otoritas baru, dan kembali ke pemilu," serta "mengutuk agresi Saudi".

Saleh juga menunjukkan bahwa pemerintahan Presiden Abdrabbu Mansour Hadi "telah berakhir", dan bersikeras mengatakan bahwa, "Saya tidak akan menerima kuasa untuk diri sendiri atau anak saya," yaitu Ahmed, yang memimpin pasukan elit Pengawal Republik selama pemerintahannya.

Adapun menurut Saleh, Iran "tidak menimbulkan ancaman untuk Yaman sama sekali". Ia mengatakan bahwa dia tidak pernah langsung bersentuhan dengan Republik yang didominasi Syiah tersebut.

Saleh dipaksa mengundurkan diri pada awal 2012 setelah melancarkan tindakan keras berdarah saat berlangsung protes menyerukan agar tiga dekade pemerintahan tangan besinya berakhir.

Pasukannya telah mendukung pemberontak Houthi yang merebut Sana'a pada bulan September kemudian melanjutkan serangan ke bagian lain negara Yaman.

 

Deddy | Alarabiya | Jurniscom

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button