Rezim Assad Tangkap Tokoh Oposisi Moderat dalam Perjalanan ke Riyadh
SURIAH (Jurnalislam.com) – Rezim pemerintah Suriah pada hari Rabu (30/12/2015) menangkap dua tokoh penting oposisi moderat anti Assad, saat mereka melakukan perjalanan ke Riyadh untuk bertemu lawan rezim lainnya, lansir World Bulletin, Rabu.
Ahmad al-Asrawi dan Munir al-Bitar, dua anggota Komite Koordinasi Nasional untuk Perubahan Demokratik, dicegat di perbatasan Suriah dengan Lebanon, kata Sekjen Komite, Yahya Aziz.
Asrawi dan Bitar sedang menuju ke Arab Saudi untuk bergabung dengan sesama anggota komite tertinggi kelompok oposisi untuk negosiasi, kata Aziz.
The supreme committee adalah kelompok dengan 33 anggota yang dibentuk awal bulan ini pada pertemuan oposisi Suriah di Riyadh.
Panitia akan memilih delegasi dari kelompok oposisi untuk melakukan pembicaraan damai dengan rezim bulan depan.
"Pihak berwenang Suriah hari ini menangkap dua rekan kami Ahmad al-Asrawi dan Munir al-Bitar pada titik perbatasan Suriah-Lebanon saat mereka sedang menuju ke pertemuan komite tertinggi di Riyadh," kata Aziz.
Dia mengatakan pasangan ini dibawa ke lokasi yang tidak diketahui.
"Mereka yang menginginkan solusi politik tidak akan melakukan ini," katanya.
Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan online, NCCDC mengatakan penangkapan tersebut bertentangan dengan upaya internasional untuk mencapai solusi politik pada konflik di Suriah.
NCCDC menuntut agar Asrawi dan Bitar dibebaskan dan mengatakan rezim Suriah bertanggung jawab untuk keselamatan mereka.
Penangkapan terjadi kurang dari seminggu setelah terbunuhnya Komandan Jaysh al-Islam, Zahran Alloush.
Zahran Alloush adalah kepala Jaish al-Islam, faksi paling kuat di provinsi Damaskus.
Jaish al-Islam, juga telah ambil bagian dalam pertemuan oposisi di Riyadh lalu walk out karena tidak sepakat.
Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir, Selasa menyalahkan terbunuhnya Zahran Alloush pada Rusia, mengatakan pembunuhan itu tidak membantu proses perdamaian dan (upaya) untuk mencapai solusi politik di Suriah.
Rezim Suriah telah secara teratur menyebut Jaish al-Islam dan Alloush sebagai teroris, tetapi mengatakan pihaknya siap berpartisipasi dalam pembicaraan damai yang baru.
Pada hari Rabu, Perdana Menteri Wael al-Halqi mengatakan Suriah siap ambil bagian dalam pembicaraan Jenewa bulan depan … tanpa campur tangan internasional.
Deddy | World Bulletin | Jurnalislam


