Pembelot Islamic State di Yaman Bergabung dan Minta Maaf Kepada Al Qaeda
YAMAN (Jurnalislam.com) – Antar al Kindi mengatakan bahwa ia telah meninggalkan Islamic State di Yaman dan bergabung dengan al Qaeda.
Seperti yang dilansir The Long War Journal, Sabtu (23/01/2016) bahwa Media jihad Al Hidayah Media Production merilis sebuah video pada 15 Januari menampilkan seorang pria yang telah membelot dari Islamic State (IS) di Yaman. Pembelot diidentifikasi sebagai Antar al Kindi dan dia mengakhiri kesaksiannya dengan meminta maaf kepada Syeikh Ayman al Zawahiri, serta Amir al Qaeda lainnya.
Sebuah keterangan yang ditampilkan pada video menggambarkan al Kindi sebagai mantan pemimpin salah satu dari kelompok Abu Bakr al Baghdadi cabang Yaman. Dia bergabung dengan Islamic State setelah "khalifah" dinyatakan pada Juni 2014.
Pada saat itu, para pengikut Baghdadi membuatnya melakukan doa, yang dikenal sebagai mubahalah, yang mengutuk siapa saja yang berbohong. Doa ini dimaksudkan untuk mengukur kontraintelijen, al Kindi menjelaskan, karena Islamic State khawatir tentang mata-mata dalam jajarannya. Pasukan Baghdadi juga percaya bahwa mubahalah akan memperlihatkan jihadis yang berniat untuk membelot ke al Qaeda.
Dalam pengantar syariah (hukum Islam), anggota baru diajarkan doktrin takfir. Menurut Al Kindi, ini berarti mereka diperintahkan untuk percaya bahwa umat Islam yang tidak bergabung dengan Islamic State adalah "kafir."
Al Kindi mengatakan anggota Islamic State bertindak seperti "Khawarij", sebuah istilah yang diambil dari sejarah Islam yang umumnya digunakan dalam konteks saat ini untuk menggambarkan "ekstremis" Muslim. Setiap jihadis yang menarik kambali bay'ah nya (sumpah setia) untuk Baghdadi dianggap sebagai "kafir." Setiap kali anggota mencoba mencabut kesetiaannya diajukan ke rantai komando dan "khalifah" (Baghdadi) akan menentukan hukuman baginya, yang bisa menjadi hukuman mati.
"Ini adalah bukti bagaimana Islamic State tidak menghormati darah Muslim," kata Al Kindi dalam video, menurut terjemahan yang diperoleh The Long War Journal.
Seorang pejabat syariah Islamic State bahkan mencap anggota Jabhah Nusrah sebagai "murtad," menurut Al Kindi. (Hal ini tidak mengherankan karena Jabhah Nusrah, cabang resmi al Qaeda di Suriah, telah secara terbuka menentang Islamic State sejak 2014).
Al Kindi mengatakan bahwa ia benar-benar menyadari betapa ekstrimnya "metodologi" Islamic State adalah ketika keluarganya berusaha menghentikan dia mengobarkan jihad. Salah satu rekan al Kindi mengatakan ia harus menggunakan senjata untuk membunuh keluarganya, agar mereka tidak akan mampu menghalangi jalan jihad nya.
Pembelot Negara Islam mengaku mengekspos beberapa "kebohongan" kelompok. Misalnya, Islamic State Wilayat Shabwah (atau "provinsi" di Shabwah, Yaman) merilis sebuah video Mei 2015 memuji kemenangan yang diperoleh "khalifah" di Anbar dan Ramadi, keduanya di Irak.
Meskipun video itu diiklankan direkam di Shabwah, al Kindi mengatakan, video itu sebenarnya difilmkan di Hadramawt, provinsi Yaman lain. Al Kindi menjelaskan bahwa Islamic State tidak ingin memprovokasi Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), yang menguasai sebagian Hadramaut, sehingga orang-orang "khalifah itu" mengklaim bahwa video itu direkam di tempat lain.
Al Kindi mengakhiri kesaksiannya dengan menyebut "pemimpin jihad dan para ulamanya yang jujur." Dia meminta maaf kepada "Amir dan Syeikh tercinta, Ayman al Zawahiri," meminta pemimpin al Qaeda itu untuk memaafkan dirinya dan orang lain yang telah meninggalkan Islamic State untuk al Qaeda. Dia juga meminta maaf kepada dua ulama pro al Qaeda terkemuka, Abu Qatada al Filistini dan Abu Muhammad al Maqdisi (keduanya adalah kritikus Islamic State, Ulama terkemuka di kancah Jihad abad ini), serta Abu Muhammad al Julani, yang memimpin Jabhah Nusrah.
Pasukan Islamic State di Yaman mengalami perpecahan kepemimpinan dalam beberapa pekan terakhir. Pada bulan Desember, lebih dari satu lusin pemimpin senior, bersama dengan puluhan pasukan, secara terbuka memberontak terhadap Gubernur (wali) kelompok untuk pelanggaran serius syariah.
Beberapa minggu kemudian, kelompok pejuang lain memberontak. Secara keseluruhan, lebih dari 100 pejabat dan pasukan Islamic State telah menolak legitimasi gubernur.
Video Al Kindi mungkin merupakan bagian dari upaya untuk memanfaatkan perbedaan pendapat ini. Tidak jelas berapa banyak anggota Islamic State yang tidak puas terhadap khalifahnya Baghdadi karena penyimpangannya yang telah bergabung dengan AQAP.
Deddy | TLWJ | Jurnalislam


