Malaysia: Pengungsi Suriah tidak Diterima untuk Jangka Panjang
MALAYSIA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Malaysia telah membantah klaim bahwa ia akan memberikan kewarganegaraan kepada 3.000 pengungsi Suriah yang diperkirakan akan tiba dalam dua tahun ke depan di bawah rencana PBB (UN), World Bulletin melaporkan Kamis (31/03/2016).
Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi menegaskan kepada parlemen pada hari Rabu (30/03/2016) bahwa Malaysia hanya akan menjadi tuan rumah pengungsi sampai situasi di negara yang dilanda perang tersebut mengendap.
"Penempatan pengungsi Suriah hanya akan bersifat sementara dan pemerintah teguh dalam posisinya bahwa mereka (suatu hari) harus kembali."
Hamidi mengatakan bahwa Malaysia akan mengambil 1000 pengungsi Suriah setiap tahun sejak 2016 hingga 2018, dengan pengawasan keamanan yang benar pada setiap individu.
"Dalam hal ini, pemerintah tidak memiliki rencana untuk menerima migran Suriah sebagai warga negara Malaysia," katanya.
Pada Oktober tahun lalu, Perdana Menteri Najib Razak – menangani sesi ke-70 Majelis Umum PBB di New York – mengumumkan bahwa Malaysia akan membuka pintu untuk 3000 migran Suriah selama tiga tahun ke depan untuk membantu krisis pengungsi Suriah saat ini .
Lima keluarga pengungsi Suriah telah tiba di Malaysia baru-baru ini, semua disaring melalui the Advance Passenger Screening System (Sistem Screening Wajah Penumpang) bekerjasama dengan Interpol dan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).
Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menumpas protes warga dengan kebrutalan militer tak terduga.
Sejak itu, lebih dari 250.000 orang telah tewas dan lebih dari 10 juta menjadi pengungsi, menurut angka PBB.
Turki, yang telah menjadi tuan rumah bagi 2,7 juta warga Suriah sejak April 2011, menaungi pengungsi lebih banyak dari seluruh negara lain di dunia, menurut UNHCR – badan pengungsi PBB.
Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

