Internasional

Erdogan: Rusia Tunjukkan Keberpihakannya pada Armenia seperti di Ukraina dan Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Rabu mengatakan, Rusia berpihak pada Armenia dalam perang dengan Azerbaijan yang terjadi kembali atas wilayah sengketa Nagorno-Karabakh, mengatakan Moskow telah ikut campur seperti di Ukraina dan Suriah, lansir World Bulletin, Rabu (06/04/2016).

Pernyataan Erdogan bisa meningkatkan ketegangan antara Turki dan Rusia, yang hubungannya memburuk drastis setelah Ankara menjatuhkan sebuah pesawat perang Rusia dekat perbatasan Suriah pada bulan November.

Erdogan juga menjelaskan Armenia tidak mentaati gencatan senjata dengan sekutu Turki Azerbaijan di Nagorno-Karabakh, yang direbut oleh separatis Armenia dari Azerbaijan dalam perang tahun 1990-an.

"Saya berharap langkah yang diambil oleh Azerbaijan untuk mengakhiri pertempuran akan ditiru oleh Armenia, tapi hal itu tidak terjadi sekarang," kata Erdogan.

Orang kuat Turki tersebut menegaskan dengan mengekspresikan dukungannya untuk Azerbaijan dan menyatakan bahwa "Karabakh suatu hari akan kembali ke pemilik aslinya."

"Rusia mengatakan bahwa Turki berpihak. Jika kita mencari pihak yang berpihak, itu adalah Rusia," tegasnya.

"Rusia suka berpihak, dan telah terbukti melakukannya di Ukraina, Georgia dan di Suriah hari ini," kata Erdogan.

Rusia telah memicu ketegangan separatis dan perang di wilayah Ossetia Selatan dan Abkhazia di Ukraina timur dan wilayah Georgia yang memisahkan diri.

Rusia juga berpihak pada rezim Suriah dengan melakukan serangan udara yang lebih menargetkan para pejuang Suriah daripada kelompok Islamic State (IS) .

"Anda mengatakan bahwa Anda berada di Suriah atas undangan rezim. Anda tidak diwajibkan untuk pergi ke sana. Jika Anda melakukannya, berpihaklah pada sisi yang tertindas, bukan penindas," kata Erdogan.

Rusia memiliki hubungan militer yang erat dengan Armenia, yang menjadi tuan rumah pangkalan Rusia di Gyumri dan juga terikat dengan Moskow melalui Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (the Collective Security Treaty Organization-CSTO) mantan negara Soviet yang tidak lagi termasuk Azerbaijan.

Turki dan Azerbaijan juga memiliki aliansi militer yang ketat melalui Perjanjian Kemitraan Strategis dan Mutual Dukungan 2010 yang mengikat kedua belah pihak menggunakan semua kemungkinan dalam kasus serangan militer.

Analis menyatakan keberpihakan yang saling bertentangan ini mendorong sengketa wilayah di Karabakh beresiko memicu konflik proxy antara Turki dan Rusia yang sudah berselisih dalam perang di Suriah.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button