Laporan Terbaru Teesside University : “Serangan Anti Muslim di Inggris”
INGGRIS (Jurnalislam.com) – Menurut laporan bersama yang dikeluarkan oleh Tell MAMA dan Teesside University yang diterbitkan pada hari Kamis (18/06/2015), insiden anti-Muslim yang dilaporkan selama periode 2014-15 turun 186 poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, kejahatan kebencian terhadap Muslim terasa meningkat setelah serangan di Paris, Sydney, dan Copenhagen pada tahun lalu, yang memberikan bukti bahwa ekstrimis di Inggris melakukan "kekerasan balas dendam" yang mentargetkan Muslim Inggris, laporan itu menyatakan.
"Narasi laporan tersebut menunjukkan bahwa tampaknya sebagian dari masyarakat keliru membuat hubungan antara Muslim dan terorisme, baik itu di dalam maupun di luar negeri," partner pimpinan Tell MAMA, mantan menteri pemerintah Shahid Malik mengatakan.
"Sebelum kita kembali melipatgandakan upaya untuk meningkatkan kohesi masyarakat dan memutuskan hubungan ini, akan banyak umat Islam yang tidak bersalah yang terus menderita," kata Malik.
"Selain itu, dengan memastikan bahwa kita bisa mengatasi kebencian anti-Muslim, kita juga bisa mengurangi keterasingan yang dirasakan oleh beberapa pemuda Muslim dan mengurangi kemungkinan mereka dimangsa oleh ekstrimis," tambahnya.
Sebanyak 548 insiden anti-Muslim dilaporkan Tell MAMA antara Maret 2014 dan Februari 2015, mulai dari pelecehan dan ancaman secara online, hingga serangan di jalanan dan kekerasan ekstrem.
Insiden meningkat secara signifikan mengikuti serangan jihadis profil tinggi di seluruh dunia, dan khususnya pasca penembakan Charlie Hebdo di Paris, laporan mencatat, menambahkan bahwa insiden tersebut terjadi hampir empat kali lipat setelah serangan 7 Januari terhadap majalah satir Prancis yang menewaskan 12 orang.
Partner penulis penelitian, Profesor Matthew Feldman, mengatakan bahwa analisis menawarkan dukungan luas untuk teori ekstremisme kumulatif, di mana suatu tindakan kekerasan memicu respon yang memicu serangan lebih lanjut.
Dr Mark Littler, penulis lainnya, menambahkan: "Temuan juga menunjukkan bahwa ketika media menekankan latar belakang Muslim dari penyerang, dan menyajikan cakupan yang signifikan terkait Islam, respon kekerasan cenderung lebih besar dibandingkan kasus di mana motivasi penyerang tidak dijelaskan. Contohnya kasus pelaku Sydney, yang secara cepat dan berulang kali diidentifikasi sebagai sakit mental ".
Penelitian terbaru juga menemukan bahwa anak-anak berusia 10 tahun juga melakukan insiden kejahatan kebencian, meskipun pelaku utama diidentifikasi sebagai orang berusialebih dari 40 tahun.
Sebanyak 402 kasus tercatat secara online, dengan kurang dari setengah dari semua insiden yang tercatat dilaporkan ke polisi.
Dalam insiden offline, mayoritas kejahatan dilakukan terhadap perempuan dan, dalam banyak kasus, korban mengenakan pakaian khas agama.
Deddy | World Bulletin | Jurniscom




