Islamophobia

Pejabat PBB Kecam Kebencian terhadap Muslim

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Dua pejabat senior PBB mengatakan pada hari Senin (14/12/2015) bahwa mereka muak dengan manifestasi kebencian dan intoleransi secara terang-terangan oleh tokoh masyarakat dan pihak lain, khususnya terhadap umat Islam, dalam menanggapi serangan ekstrimis baru-baru ini.

Seperti yang dilansir Al Arabiya News Channel, Selasa (15/12/2015) Adama Dieng, penasihat khusus pencegahan genosida, dan Jennifer Welsh, penasihat khusus pada tanggung jawab untuk melindungi warga sipil, mengatakan bahwa, "setiap advokasi kebencian nasional, rasial atau agama yang merupakan hasutan untuk melakukan diskriminasi, permusuhan atau kekerasan dilarang oleh hukum hak asasi manusia internasional dan hukum di banyak negara."

Dalam pernyataan bersama, mereka mengecam penyebaran informasi yang keliru dan manipulasi ketakutan dan kekhawatiran yang disengaja dan berbahaya untuk kepentingan politik."

Dieng dan Welsh mengutuk keras serangan ekstremis tetapi menggarisbawahi bahwa menghubungkan serangan tersebut dengan Muslim telah mengakibatkan diskriminasi dan penargetan.

Mereka mengatakan bahwa seruan tokoh-tokoh politik AS agar umat Islam dilarang memasuki Amerika Serikat, didaftarkan dalam database nasional atau dipaksa membawa identifikasi yang akan menyoroti agama mereka "tidak bisa diterima" dan "merupakan penghinaan terhadap kemanusiaan."

Mereka tidak secara spesifik menyebutkan satupun nama orang Amerika, tapi calon presiden Republik terdepan, Donald Trump, telah menciptakan badai politik yang menyatukan pendukungnya di kubu Republik.

Sentimen anti-Muslim telah terbangun di Amerika Serikat setelah serangan mematikan 13 November di Paris, dengan sebagian besar gubernur negara dari partai Republik mengatakan mereka menentang pemukiman pengungsi dari perang sipil Suriah di negara bagian mereka. Penentangan ini semakin intensif setelah 14 orang tewas dalam pembantaian 2 Desember di sebuah pusat pelayanan penyandang cacat di San Bernardino, California, yang diduga dilakukan oleh pasangan.

Para ahli mengatakan seruan Donald Trump pada 7 Desember untuk melarang semua Muslim memasuki AS sama dengan mengipasi api yang sudah ada.

Dieng dan Welsh mengatakan bahwa seruan bagi pemerintah untuk berhenti menerima pengungsi dari Suriah dan Irak tidak dapat diterima.

"Pengungsi dari Suriah dan Irak melarikan diri dari jenis kekerasan yang kita takuti juga di Barat," kata mereka.

Pada saat dunia menghadapi tantangan yang kompleks termasuk menghadapi kelompok-kelompok pelaku kekerasan, penasihat khusus mendesak pemerintah dan aktor terkemuka lainnya untuk menghilangkan kebohongan, prasangka dan ketakutan serta menghormati hukum internasional dan nasional.

 

Deddy  | Al Arabiya | Jurnalislam

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button