Tolak SSA, Warga Laweyan Tabur Bunga dan Doa Bersama di Jalan Dr Rajiman
SOLO (Jurnalislam.com)– Kebijakan Sistem Satu Arah (SSA) yang diterapkan Dinas Perhubungan Kota Surakarta di Jalan Dr. Rajiman ditolak warga. Sekitar 300 massa datang memenuhi jalan yang berada di selatan pondok pesantren Ta’mirul Islam, Laweyan, Solo. Mereka membawa spanduk dan penghadang jalan, Kamis (19/5/2016) malam.
Massa memerintahkan pengguna jalan untuk mencari jalan lain karena jalan tersebut akan digunakan massa untuk sholat dan doa bersama sebagai bentuk protes mereka terhadap pemerintah.
Selain membentangkan spanduk bertuliskan “TOLAK SSA (sistem satu arah), terbukti bikin Sengsara”, mereka juga menggelar aksi tabor bunga yang membentuk dua kata, “SSA NO!!”. Tidak lama kemudian mereka bersama-sama melakukan sholat di lanjutkan doa bersama dipimpin oleh Ustadz Muhammad Ali, pengasuh Ponpes Ta’mirul.
“Ya Allah apabila mereka tidak pantas mendapatkan hidayahMu ya Allah maka tumpaslah mereka ya Allah, patahkan mereka ya Allah, cerai beraikan mereka ya Allah,” ucap Ustadz Ali dalam doanya.
Setelah selesai berdo’a ustadz Ali mengajak masyarakat Laweyan untuk menggelar aksi lanjutan jika protesnya ini tidak diindahkan selama 1 x 24 jam oleh pihak yang bertanggungjawab atas kebijakan SSA tersebut.
“Kepada yang berwenang terhadap kebijakan lalu lintas kami beri waktu 1 x 24 jam untuk dibatalkan sistem satu arah! Apabila tidak, maka kami akan mengadakan acara serupa di tempat ini,” tegasnya.
Ustadz Ali kemudian meminta massa untuk membubarkan diri dengan tertib, dan mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu diundang untuk menggelar acara yang sama.
“Apabila besok masih diberlakukan Sistem Satu Arah, maka kita adakan lagi ditempat ini bapak ibu setuju? Setuju. Bapak-bapak aparatur negara saksikanlah ini semua sudah setuju, warga punya gawe jadi bukan saya yang punya gawe, ini kepentingan masyarakat kecamatan Laweyan” tandasnya.
Seperti diketahui, salah stu alasan warga Laweyang menolak SSA adalah karena di jalan Samanhudi tersebut terdapat tiga Taman Kanak-kanak, empat Sekola Dasar, Tiga Pondok Pesantren dan dua kampus. Warga menilai, jika SSA diterapkan maka akan membahayakan karena kerap dijadikan aksi kebut-kebutan.
Reporter: Dyo | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam




