Indonesian NewsInternasional

Tokoh Senior al Qaeda di Suriah, Syeikh Abu Sulaiman al Muhajir Kembali Hadir di Media Sosial

SURIAH (Jurnalislam.com) – Seorang tokoh ulama senior al Qaeda Suriah telah kembali ke media sosial dalam 24 jam terakhir setelah absen berkepanjangan. Jihadis yang dikenal sebagai Syeikh Abu Sulaiman al Muhajir itu telah meluncurkan saluran Telegram dan Twitter feed baru, The Long War Journal melaporkan, Senin (06/06/2016).

“Kami sedang berupaya untuk mengelola agar pertanyaan Anda dijawab melalui saluran ini,” Abu Sulaiman menulis kepada para pengikutnya dalam pesan ketiganya di Telegram.

Departemen Keuangan AS memasukkan Abu Sulayman ke dalam daftar resmi pejuang al Qaeda pada tanggal 19 Mei. Departemen Keuangan mengatakan bahwa ia menempati posisi kepemimpinan senior di Jabhah Nusrah, yang merupakan cabang resmi al Qaeda di Suriah. Abu Sulaiman telah merekrut warga Australia untuk jihad di Suriah dan juga mengumpulkan dana untuk membiayai perjuangannya, menurut Departemen Keuangan.

Sejauh ini, Abu Sulaiman baru memposting beberapa pesan di Twitter dan Telegram. Dia telah mempertahankan kehadiran aktif di media sosial di masa lalu, tetapi admin Twitter telah berulang kali menangguhkan akun-nya.

16-06-06-Abu-Sulayman-al-Muhajirs-New-Twitter-feed-768x393

Tidak terlihat bahwa Abu Sulaiman aktif secara online berbulan-bulan, kemungkinan lebih dari satu tahun. Dalam salah satu tweet pertamanya saat ini, Abu Sulaiman memasang link ke koleksi tweet lamanya. Tweet terakhir adalah tanggal 12 November 2014. Pada 11 September 2014, ulama al Qaeda tersebut memuji serangan 9/11.

The Long War Journal melaporkan kegiatan Abu Sulaiman pada beberapa kesempatan. Dia adalah seorang da’i di Australia sebelum pindah ke Suriah. Jabhah Nusrah pertama kali mempromosikan Abu Sulaiman kepada publik pada bulan Maret 2014, ketika kelompok ini merilis video kesaksiannya terhadap Islamic State (IS). Abu Sulaiman mengatakan ia berusaha untuk menengahi sengketa antara Islamic State dan Jabhah Nusrah di Suriah.

The Long War Journal menilai kemungkinan bahwa Abu Sulaiman adalah seorang pejabat al Qaeda sebelum ia pindah ke Suriah. Al Qaeda hanya memilih personel yang paling dipercaya untuk ambil bagian dalam pembicaraan mediasi dengan IS. Sangat tidak mungkin bahwa seseorang seperti Abu Sulaiman tidak diketahui oleh kepemimpinan al Qaeda sebelum inklusi di tim mediasi, yang gagal membawa resolusi yang bersengketa pada 2013 dan awal 2014.

Dalam video Jabhah Nusrah berikutnya, yang dirilis pada April 2014, Abu Sulaiman menjelaskan strategi global Al Qaeda.

Al Qaeda “menarik rencana dan strategi berdasarkan apa yang kita sebut al Qalim, atau lokasi,” kata Sulaiman dalam video. Dan pemimpin, atau amir, dipilih untuk mengawasi masing-masing lokasi. Amir daerah bersumpah ba’yah dengan Al Qaeda atas nama cabang nya “yang mengikat mereka kepada tandzim” dan berarti bahwa mereka bersumpah “kesetiaan dalam hal jihad,” karena sumpah tersebut”mengikat mereka menjadi satu kesatuan, satu kelompok yang disebut “al Qaeda. Abu Sulaiman mengatakan bahwa Abu Bakr al Baghdadi, yang memimpin ISIS menjadi khalifah secara sepihak, yang pada awalnya adalah dirinya amir daerah sebelum ia membatalkan ba’yahnya pada al Qaeda.

Abu Sulaiman telah muncul di video Jabhah Nusrah lainnya juga, termasuk salah satu video peringatan serangan 11 September 2001.

Seperti di masa lalu, Abu Sulaiman menggunakan media sosial untuk memberikan bimbingan ideologis (Aqidah) untuk para jihadis.

“Meskipun kami bertujuan melakukan perubahan bertahap tergantung pada kemampuan kita, agama ini bukan gerakan reformasi damai,” tulis Abu Sulaiman di salah satu pesan pertamanya pada Telegram. Ia melanjutkan: “Islam datang untuk memutus segala bentuk kebatilan yang ada di masyarakat dan dengan tegas membangun sistem keadilan yang abadi dan berkelanjutan. Solusi setengah-setengah tidak pernah menjadi jawabannya, karena yang haq tidak pernah bisa tegak bersama kebatilan, dan kebohongan sama dengan tidak adanya kebenaran. Agar hal ini terjadi, kelompok orang-orang yang paling mulia harus mengorbankan kekayaan dan kehidupan mereka.”

Related Articles

Back to top button