Bentrokan Senjata di Kashmir saat Hari Kemerdekaan India


KASHMIR (Jurnalislam.com) – Beberapa orang, termasuk seorang anak remaja, telah tewas di Kashmir jajahan India dalam bentrokan bersenjata antara demonstran dan pasukan India di wilayah yang disengketakan, Aljazeera melaporkan Senin (15/08/2016).
Pertumpahan darah terbaru terjadi saat India merayakan hari kemerdekaannya pada hari Senin.
Seorang pengunjuk rasa berusia 16 tahun ditembak mati pada hari Senin menyusul bentrokan antara pasukan India dan pengunjuk rasa di wilayah Batmaloo di kota utama Srinagar, beberapa jam setelah dua pejuang separatis diduga juga tewas dalam tembak-menembak singkat beberapa mil jauhnya.
“Remaja itu dibawa mati ke rumah sakit. Dia terkena peluru,” Kaiser Ahmad, seorang dokter di rumah sakit utama Srinagar, mengatakan kepada kantor berita AFP.
Pihak berwenang telah memberlakukan jam malam di sebagian besar Kashmir, yang berpenduduk mayoritas Muslim di India, sejak 9 Juli selama gelombang kekerasan yang dipicu oleh pembunuhan seorang komandan tinggi sehari sebelumnya oleh pasukan India. (baca juga: Komandan Muda Mujahidin Kashmir Gugur dalam Baku Tembak dengan Pasukan India)
Dalam insiden terpisah di hari Senin, dokter di rumah sakit Srinagar lainnya mengatakan seorang pengunjuk rasa muda meninggal karena luka-lukanya, beberapa hari setelah terkena peluru, menurut AFP.
Seorang komandan polisi paramiliter India juga meninggal di rumah sakit setelah terluka kritis sebelumnya pada hari Senin dalam serangan di wilayah Nowhatta, Srinagar.
“Kami telah kehilangan seorang komandan. Dua pejuang Kashmir juga tewas dalam tembak-menembak berikutnya,” Atul Karwal, seorang petugas dari Angkatan Polisi Cadangan Central India, kepada AFP.
Sembilan orang lainnya luka-luka setelah penembakan selama patroli, termasuk dua polisi lokal yang berada dalam kondisi kritis, ia menambahkan.
Kashmir telah terbagi antara India dan Pakistan sejak berakhirnya kekuasaan kolonial Inggris pada bulan Agustus 1947, namun keduanya mengklaim wilayah itu secara penuh. Beberapa faksi pejuang Islam telah berperang melawan pemerintah India karena mereka ingin kemerdekaan atau persatuan dengan Pakistan.

Perdana Menteri India Narendra Modi membidik pendukung “jihadis” dalam pidato Hari Kemerdekaan, Senin, melempar kritik bagi Pakistan sambil menghindari penyebutan langsung tentang peristiwa protes selama sebulan di Kashmir jajahan India yang telah menewaskan lebih dari 50 warga Muslim Kashmir dan beberapa ribu lainnya terluka dalam bentrokan dengan pasukan India. (baca juga: Korban Kebrutalan Pasukan India Meningkat, 31 Muslim Kashmir Tewas dan 1.000 Lebih terluka)
Presiden Pakistan Mamnun Hussain berbicara tentang India-Kashmir dalam pidato kemerdekaan negerinya dari kekuasaan Inggris pada hari Ahad.
India mengklaim Pakistan telah mendukung gerakan kekerasan perlawanan di Kashmir. Islamabad membantah tuduhan itu, menyebut para milisi Kashmir tersebut sebagai “pejuang kemerdekaan”.
Menteri utama wanita pertama negara Mehbooba Mufti meminta India dan Pakistan untuk membuat Garis Kontrol – sebagai perbatasan de facto antara India dan Pakistan – di utara sektor Uri Kashmir “tidak relevan” dalam membawa perdamaian di kawasan itu.
Dalam pidato di sebuah stadion olahraga di Srinagar pada hari Senin, Mufti juga menyalahkan kepemimpinan India untuk krisis di Kashmir saat ini, dan juga mengimbau para pemuda untuk kembali ke sekolah dan perguruan tinggi mereka.
Pada hari Senin, Pakistan menyampaikan surat kepada Komisaris Tinggi India Gautam Bambawale di Islamabad, mengundang India untuk berdiskusi menyelesaikan masalah Kashmir “sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB”, menurut sebuah pernyataan Nafees Zakaria, juru bicara kementerian luar negeri Pakistan.
Lebih dari 50.000 orang telah tewas di India-Kashmir sejak pertempuran mencapai puncaknya pada akhir 1980-an.
Deddy | Aljazeera | Jurnalislam



