Amir Jabhah Nusrah Umumkan Berpisah dari Al Qaeda

SURIAH (Jurnalislam.com) – Al Jazeera memperoleh video eksklusif, Kamis (28/07/2016) dari Jabhah Nusrah yang mengkonfirmasikan lepasnya tandzim jihad berbasis Suriah dari al-Qaeda.
Abu Muhammad al-Jaulani muncul di kamera untuk pertama kalinya mengumumkan bahwa nama kelompoknya juga telah berubah menjadi Jabhat Fath al Syam, atau pasukan pembebasan al Syam.
“Kami menyatakan penghapusan lengkap semua operasi di bawah nama Jabhah Nusrah, dan pembentukan taandzim baru yang beroperasi di bawah nama Jabhat Fath al-Syam dan menyatakan bahwa organisasi baru ini tidak memiliki afiliasi dengan setiap entitas eksternal,” kata Syeikh Jaulani.
Jabhah Nusrah telah dibubarkan dan faksi jihadnya sekarang akan terus berjuang sebagai Pasukan Penaklukan Damaskus. (baca juga: Berpisah dengan Al Qaeda, Inilah Rilisan Terjemahan Lengkap Syeikh al Jaulani)
Syeikh Jaulani mengatakan langkah terbaru tersebut adalah untuk menghilangkan semua alasan yang dibuat oleh AS dan Rusia untuk mengebom warga sipil di Suriah.
Video dirilis pada hari Kamis setelah laporan sebelumnya bahwa pemimpin al-Qaeda telah menyetujui perpisahan, sehingga mujahidin Jabhah Nusrah bisa berkonsentrasi pada perjuangan mereka melawan rezim Syiah Suriah dan kelompok oposisi lainnya.
Jabhah Nusrah pertama muncul di internet pada awal 2012 untuk bertanggung jawab atas serangan bom syahid di Aleppo dan Damaskus pada pasukan Assad.
Faksi jihad bersenjata lengkap, dengan pejuang yang sangat terlatih, sejak itu mementaskan sejumlah serangan terhadap pasukan rezim Suriah serta kelompok-kelompok bersenjata lainnya di Suriah.
Jabhah Nusrah diberi sanksi oleh Dewan Keamanan PBB dan terdaftar sebagai kelompok teroris menurut Amerika Serikat dan Rusia.
Pada bulan Februari, AS dan Rusia mengeluarkan Jabhah Nusrah dari kesepakatan gencatan senjata yang bertujuan mengakhiri pertempuran di Suriah.
Menanggapi deklarasi Syeikh Jaulani tersebut, Farah al-Atassi, juru bicara Komite Negosiasi Tinggi, blok negosiasi utama oposisi moderat Suriah, mengatakan bahwa masih sangat prematur untuk memprediksi konsekuensi penuh dari perpecahan al-Qaeda.
Namun Atassi menambahkan bahwa dia berharap langkah itu akan menyingkirkan kekuatan seperti Rusia dari alasan mereka untuk pemboman di Suriah.
“Kami melihat dengan lega,” katanya kepada reporter Al Jazeera dari Washington DC, beberapa menit setelah pengumuman Jaulani ini.
“Bagaimanapun ini akan mencerminkan hasil positif karena Rusia melakukan pemboman dan menyerang lingkungan sipil dengan alasan bahwa mereka ingin menyerang Jabhah Nusrah.”
Reporter Al Jazeera Mohamed Jamjoom, melaporkan dari Gaziantep di perbatasan Suriah-Turki sisi Turki, mengatakan reaksi awal anggota oposisi di dalam Suriah berbeda-beda.
“Semua aktivis oposisi yang sudah kita ajak bicara di dalam Suriah mengatakan kepada kami bahwa mereka tidak terkejut dengan pengumuman tersebut, dengan telah memuncaknya spekulasi dalam beberapa hari terakhir bahwa ini akan terjadi,” kata Jamjoom.
“Beberapa mengatakan mereka percaya bahwa pemisahan Jabhah Nusrah secara resmi dari al-Qaeda dan mengubah namanya, serta pembicaraan tentang pemersatu dalam perang di Suriah, itu berarti bahwa AS dan lainnya tidak akan lagi menganggap Jabhah Nusrah sebagai organisasi teroris; dan lebih banyak lagi pendukung internasional akan berada di belakang kelompok itu.”
Namun, ada juga aktivis di Aleppo yang tidak benar-benar percaya tentang hal itu,” tambah Jamjoom.
“Beberapa dari mereka bertanya-tanya apakah ini semacam aksi publisitas untuk mendapatkan lebih banyak dukungan dari masyarakat internasional, dengan banyak yang bertanya-tanya apakah perpisahan ini akan memiliki dampak praktis.”
Kemudian pada hari Kamis, Gedung Putih mengatakan penilaian terhadap Jabhah Nusrah tidak berubah, meskipun ada pengumuman bahwa kelompok itu memutuskan hubungan dengan al-Qaeda.
“Terus menjadi keprihatinan yang meningkat tentang kapasitas tumbuh Jabhah Nusrah untuk operasi eksternal yang bisa mengancam Amerika Serikat dan Eropa,” kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest kepada wartawan saat briefing.
Reporter Al Jazeera Rosiland Jordan, melaporkan dari Washington DC, mengatakan Gedung Putih menganggap Jabhah Nusrah sebagai ancaman keamanan bagi AS dan kepentingannya. (baca juga: AS: Jabhah Nusrah atau Jabhat Fatah al-Syam Tetap Menjadi Target)
“Ketika AS membuat keputusan untuk menyatakan Nusrah sebagai organisasi teroris (pada 2014), muncul banyak kritik, terutama yang berasal dari anggota oposisi Suriah yang mengatakan Nusra memiliki pejuang terlatih terbaik yang paling efektif dalam upaya mereka menggulingkan pemerintah Suriah Bashar al-Assad,” kata Jordan.
“Tapi pemerintah AS tidak bergerak, mengatakan bahwa mereka menganggap hubungan de-facto (Jabhah Nusrah) dengan al-Qaeda adalah masalah yang sangat serius.”



