AS dan Rusia Setuju Perpanjang Gencatan Senjata selama 48 Jam di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – AS dan Rusia mengatakan bahwa gencatan senjata di Suriah sebagian besar telah berjalan dan harus diperpanjang selama 48 jam, saat PBB mendesak semua pihak untuk menjamin keamanan konvoi bantuan, yang saat ini bersiap di sepanjang perbatasan Turki, menuju Aleppo.
“Ada kesepakatan menyeluruh, meskipun juga ada laporan kekerasan sporadis, keteraturan mulai terlihat dan kekerasan secara signifikan menurun,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner pada konferensi pers hari Rabu (14/09/2016), lansir Aljazeera.
“Sebagai bagian dari pembicaraan, mereka sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 48 jam.”
Toner mengatakan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan timpalannya dari Rusia Sergei Lavrov telah berbicara sebelumnya melalui telepon dan setuju memperpanjang gencatan senjata.
Berdasarkan kesepakatan, yang ditengahi oleh AS dan Rusia pada hari Jumat, Washington dan Moskow bertujuan mengurangi kekerasan selama tujuh hari berturut-turut, sebelum mereka pindah ke tahap berikutnya, yaitu koordinasi serangan militer melawan Jabhat Fath al Syam dan kelompok Islamic State (IS), Jabhat Fath al Syam yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah, berubah nama setelah memutuskan hubungan dengan al Qaeda pada bulan Juli.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights) yang berbasis di Inggris, yang memonitor konflik Suriah melalui kontak di lapangan, mengatakan tidak ada korban tewas akibat pertempuran yang telah dilaporkan dalam 48 jam pertama gencatan senjata.
“Komitmen ini awalnya akan berlangsung selama 48 jam, dan untuk mempertahankannya , AS dan Rusia akan membahas ekstensi, dengan tujuan mencapai perpanjangan waktu yang tidak terbatas untuk menurunkan kekerasan,” kata Toner.
Dia menambahkan bahwa Rusia harus menggunakan pengaruhnya atas Bashar al-Assad untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan sampai ke masyarakat yang dikepung sesuai perjanjian.
“Kami belum melihat akses kemanusiaan namun kita masih terus memantau, dan berbicara dengan Rusia,” Toner mengatakan. “Kami menekan mereka untuk memaksa rezim Assad.”
Perpanjangan gencatan senjata, yang dimulai saat matahari
terbenam pada hari Senin, terjadi konvoi bantuan yang dimaksudkan untuk mencapai populasi yang dikepung di utara kota Aleppo tetap terhenti di sepanjang perbatasan Turki.
Dua puluh truk sarat dengan makanan dan bantuan lainnya yang sangat dibutuhkan untuk wilayah Aleppo yang dikuasai faksi-faksi jihad Suriah, yang menjadi rumah bagi sekitar 300.000 orang, masih tetap berada di perbatasan pada hari Rabu menunggu kejelasan untuk perjalanan ke kota perang itu.
“Saya sudah mendesak pemerintah Rusia untuk memastikan bahwa mereka mempunyai pengaruh terhadap rezim Suriah, dan juga sisi Amerika untuk memastikan bahwa kelompok-kelompok bersenjata Suriah juga sepenuhnya gencatan senjata,” kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di depan sebuah konferensi pers pada hari Rabu.
Konvoi bantuan seharusnya sudah menuju ke arah Aleppo pada hari Rabu, tapi Ban mengatakan pengaturan keamanan masih belum berjalan.
“Mereka berada di perbatasan dengan Suriah. Mereka masih di sana,” kata Ban.
PBB memperkirakan bahwa lebih dari setengah juta orang hidup di bawah pengepungan di Suriah, di mana konflik lima tahun telah menewaskan ratusan ribu dan menelantarkan lebih dari 11 juta lainnya.
Sementara itu, pasukan pro-rezim Assad dan pejuang Suriah dilaporkan akan mulai menggelar penarikan pasukan mereka dari jalan utama Aleppo yang diharapkan dapat digunakan untuk pengiriman bantuan Kamis pagi.
Zakaria Malahifji, dari kelompok oposisi anti-assad Fastaqim yang berbasis di Aleppo, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kelompok oposisi berniat untuk mematuhi rencana untuk mundur 500 meter dari Castello Road untuk membuatnya menjadi tempat yang netral, tetapi pasukan rezimdan sekutunya juga harus mundur.
Pada hari Rabu, Moskow dan Washington berbicara positif tentang kesepakatan gencatan senjata, yang Kremlin katakan meningkatkan harapan untuk solusi damai terhadap krisis.
Kerry juga mengatakan itu adalah “kesempatan terakhir” untuk menjaga Suriah bersama-sama, dan Washington berharap kesepakatan gencatan senjata akan menghidupkan kembali pembicaraan damai yang bertujuan mengakhiri konflik.
Namun, politisi oposisi Suriah yang menonjol, George Sabra, mengatakan banyak pelanggaran gencatan senjata sebelumnya yang telah merusak kepercayaan dalam gencatan senjata saat ini, menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk berbicara tentang dimulainya kembali pembicaraan damai yang ditinggalkan pada bulan April.
Berbicara kepada Reuters, ia menyesalkan kurangnya mekanisme untuk menegakkan gencatan senjata dan melaporkan pemerintah rezim Nushairiyah Assad dan sekutu Syiahnya sering melakukan pelanggaran.
“Ini akan menghambat tujuan-tujuan lain dari gencatan senjata, seperti terhalangnya memberikan bantuan yang diperlukan untuk daerah terkepung,” kata Sabra.



