Internasional

Dikira Pejuang Islam, Siswa 19 Tahun Ditembak Mati Polisi India

SRINAGAR (Jurnalislam.com) Tentara India membunuh seorang siswa tak bersenjata berusia 19 tahun, Shahid Bashir Mir, karena diduga pejuang Muslim Kashmir, kata polisi di Kashmir yang dikendalikan India.

Warga memprotes penembakan fatal pada hari Selasa (22/8/2017) terhadap remaja tersebut pada hari Kamis (24/8/2017) di Handwara, di bagian utara Kashmir yang dijajah India.

Warga desa Daril Tarthpora bentrok dengan polisi menuntut penyelidikan kriminal terhadap tentara yang terlibat dalam pembunuhan Mir.

Pengunjuk rasa membawa mayat Mir di peti mati namun menolak untuk mengubur korban sampai penyelidikan dilakukan.

Kepala polisi Kashmir Muneer Khan mengatakan kepada wartawan bahwa Mir adalah seorang sipil dan tidak ada senjata yang ditemukan di dirinya.

“Bagaimana dia terbunuh adalah masalah penyelidikan,” kata Khan.

Tentara India pada hari Selasa telah mengklaim bahwa mereka membunuh seorang “militan” saat baku tembak di sebuah hutan desa.

Penduduk setempat mengidentifikasi pemuda tersebut sebagai mahasiswa Degree College Handwara yang mereka katakan telah hilang selama dua hari.

Anggota keluarga Mir mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia dijemput pada hari Senin oleh sebuah konvoi tentara dan sejak itu hilang.

“Kami tidak melihat dia setelah hari itu, saya mencari ke semua tempat, ke hutan, ke setiap desa, tapi saya tidak dapat menemukannya,” kata ayah Shahid, Bashir Ahmad Mir.

“Suatu hari, saya mendapat telepon dari kantor polisi untuk mengidentifikasi mayat. Ketika kami melihatnya, tubuh anak laki-laki saya terkoyak dan wajahnya rusak. Kami terkejut,” kata Mir.

Karena takut timbulnya gelombang protes keras, pemerintah menutup perguruan tinggi dan sekolah di Kashmir utara.

“Kita tidak bisa membiarkan pemuda terbunuh seperti ini,” kata pemrotes Nazir Ahmad kepada Al Jazeera.” Lebih baik bergabung dengan militansi dan bertarung hingga mati daripada dibunuh seperti ini. Apa kejahatannya, berapa lama pertumpahan darah ini akan berlanjut?”

Aktivis hak asasi manusia Khurram Parvez mengklaim bahwa ada hadiah uang untuk membunuh pejuang.

“Tentara melakukan tindakan semacam itu untuk keuntungan moneter. Mereka membunuh warga sipil dan menyebarkan info bahwa dia adalah militan karena mereka mendapat imbalan uang besar untuk membunuh seorang pejuang Muslim di Kashmir,” katanya kepada Al Jazeera.

“Bahkan jika militansi berakhir di Kashmir, tentara India tidak akan berhenti membunuh orang karena mereka ingin memanfaatkannya,” katanya. “Mereka tidak ingin mendemoralisasi tentara yang mengendalikan situasi di lapangan.”

India dan Pakistan, saingan bersenjata nuklir, masing-masing mengendalikan sebagian wilayah Kashmir, namun keduanya mengklaim wilayah Himalaya secara keseluruhan.

Kelompok perlawanan Islam telah berjuang sejak tahun 1989 memperjuangkan wilayah yang dijajah India untuk menjadi independen atau bergabung dengan Pakistan.

Hampir 70.000 orang terbunuh dalam perlawanan tersebut dan akibat tindakan militer India selanjutnya. India memiliki sekitar 500.000 tentara di wilayah ini.

Sentimen anti-India berkembang pesat di kalangan mayoritas Muslim Kashmir dan sebagian besar mendukung perlawanan terhadap pemerintah India tersebut kendati militer meluncurkan tindakan keras selama beberapa dekade untuk memerangi perlawanan bersenjata tersebut.

India menuduh Pakistan mempersenjatai dan melatih para pejuang Muslim Kashmir. Tuduhan tersebut disangkal Pakistan.

Related Articles

Back to top button