Erdogan Bantah Tuduhan Rusia
QATAR (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan Rusia melancarkan fitnah pada hari Rabu (02/11/2015) bahwa Turki telah membeli minyak dari Islamic State (IS) di Suriah.
"Tidak ada bukti untuk melancarkan fitnah terhadap Turki dengan mengatakan bahwa Turki membeli minyak dari IS," kata Erdogan dalam komentar yang disiarkan oleh televisi Turki pada kunjungannya ke Qatar.
Erdogan berbicara setelah kementerian pertahanan Rusia menuduh Erdogan dan keluarganya terlibat dalam perdagangan minyak ilegal dengan IS, meningkatkan ketegangan selama seminggu setelah Turki menembak jatuh sebuah pesawat perang Rusia di perbatasan Suriah.
Erdogan menegaskan kembali bahwa ia akan mengundurkan diri jika tuduhan itu terbukti benar dan mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin juga harus mempertimbangkan posisinya.
"Aku tidak akan tinggal di kursi presiden bahkan untuk satu menit pun jika Rusia bisa membuktikan klaimnya. Tetapi mereka yang menyebarkan fitnah seharusnya tidak bertahan di posisi mereka juga."
"Turki tidak kehilangan nilai moral hingga harus membeli minyak dari IS," tambahnya.
Penembakan pesawat perang Rusia oleh jet tempur Turki di perbatasan Suriah pada 24 November menjatuhkan hubungan antara Moskow dan Ankara ke dalam krisis terbesar sejak Perang Dingin.
Turki mengklaim pesawat itu masuk wilayah udara mereka dan mengabaikan peringatan berulang-ulang tapi Rusia menegaskan tidak pernah melintasi perbatasan Suriah.
Rusia – pemasok energi utama Turki – juga memberlakukan sanksi terhadap Turki yang akan merugikan ekspor makanan dan juga menghimbau wisatawan Rusia untuk tidak mengunjungi Turki.
"Menambahkan bahan bakar ke dalam api tidak bermanfaat sama sekali," kata Erdogan, yang menandatangani nota kesepahaman pasokan gas dengan Qatar, sekutu terdekat Turki.
"Kami sedih dengan tanggapan yang tidak proporsional dari Rusia terhadap sebuah insiden di mana seluruh dunia setuju bahwa kita benar."
"Jika respon ini terus berlanjut kami akan mengambil langkah-langkah kita sendiri," katanya, tanpa menjelaskan lebih jauh.
Deddy | World Bulletin | Jurniscom


