Gencatan Senjata di Yaman Mulai Berlaku
YAMAN (Jurnalislam.com) – Gencatan senjata kemanusiaan lima hari telah dimulai di Yaman, hanya beberapa jam setelah pesawat tempur koalisi Arab menyerang pemberontak Syiah Houthi dan sekutu mereka.
Tidak bisa langsung diketahui apakah kedua belah pihak menghormati gencatan senjata, yang dimulai pada pukul 11 waktu setempat [20:00 GMT] Selasa (12/05/2015).
Jeda dalam pertempuran, yang telah menewaskan ratusan warga sipil, akan menguji komitmen kedua belah pihak untuk melakukan pembicaraan damai.
Baik Syiah Houthi maupun pemerintah Yaman yang didukung koalisi Arab mengatakan mereka siap untuk menanggapi dengan kekerasan jika lawan mereka mengacaukan gencatan senjata.
Sebelumnya pada hari Selasa, setidaknya 69 orang tewas dan 250 lainnya luka-luka akibat ledakan setelah jet tempur koalisi menabrak sebuah gudang senjata di dekat ibukota Yaman Sanaa, menurut pejabat medis.
Warga mengatakan bahwa ledakan di sebuah pangkalan militer di Gunung Noqum berlangsung sampai tengah hari pada hari Selasa setelah jet koalisi menyerang depot tersebut hari Senin.

Seorang pejabat mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa sebagian besar orang yang tewas dan luka-luka adalah warga sipil.
Petugas medis di lapangan sebelumnya memberi informasi awal jumlah korban, yaitu lima orang tewas dan 20 lainnya luka-luka.
Serangan udara menimbulkan ledakan besar. Puing-puing beterbangan menimpa daerah perumahan di kaki gunung, kata saksi.
Di tempat lain, di Taiz, penembakan yang diduga dilakukan gerilyawan Houthi menewaskan sedikitnya 10 orang.
Adel al-Jubeir, menteri luar negeri Arab Saudi, yang memimpin koalisi Arab, seperti dikutip pada hari Senin mengatakan bahwa gencatan senjata dapat diperpanjang jika pengiriman bantuan berhasil dan jika Houthi dan sekutu mereka tidak terlibat dalam kegiatan yang menimbulkan konflik.
Perang di Yaman telah menewaskan lebih dari 1.400 orang – banyak dari mereka adalah warga sipil – sejak 19 Maret, menurut PBB, dan negara berpenduduk sekitar 25 juta jiwa itu mengalami kekurangan makanan, air, obat-obatan dan listrik sebagai akibat dari blokade angkatan laut, udara dan darat.
Deddy | Aljazeera | Juriscom




