BANDUNG (Jurnalislam.com) – DKM Ulul Abshor Universitas Pasundan Bandung (UNPAS) bekerjasama dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menggelar acara bedah buku dan diskusi Media Massa Islam : Sejarah, Dinamika dan Perannya di Masyarakat karya Roni Tabroni, S.Sos., M.Si.. Acara dilangsungkan di Masjid Ulul Abshor kampus Universitas Pasundang Bandung, Jawa Barat pada hari Sabtu (3/1/2018).
Acara menghadirkan Muhammad Pizarro (Ketua umum Jurnalis islam bersatu dan redaktur kantor berita Turki Andolu Agency) sebagai pembicara dan Roni Tabroni sendiri sebagai penulis buku.
Dalam buku ini, Roni Tabroni memaparkan media massa Islam tidak sering dikaji dalam dunia jurnalisme di tanah air. Faktanya, media massa Islam memiliki porsi khusus dalam sejarah media massa jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan media cetak tertua yang masih eksis hingga saat ini pun adalah Majalah Islam Suara Muhammadiyah yang terbit sejak tahun 1914.
Dan di buku ini juga kita akan melihat bagaimana media massa Islam dengan segala dinamikanya. Termasuk media yang begitu sederhana seperti Buletin jumat. Walaupun ukurannya sangat kecil, buletin jumat memiliki kekhasan yang tidak dimiliki media lain.
“Hampir semua media massa cetak Islam yang lahir sejak awal lebih memiliki jenis majalah dengan terbit antara bulanan atau paling cepat juga mingguan. Usia media itu rata-rata lebih terganggu karena faktor dana (modal) terbit yang terbatas. Namun walaupun tidak menjadi perusahaan yang besar, Suara Muhammadiyah adalah majalah yang lahir sejak 1914. Hingga kini tetap eksis. Artinya juga, jika didalami lebih lanjut , ada spirit lain yang membuat media massa Islam bisa eksis,” papar penulis yang juga Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah ini.
Sementara itu, Muhammad Pizaro sebagai sangat mengapresiasi buku karya Roni Tabroni tersebut. Dan sempat berbagi pengalaman kepada Mahasiswa/Mahasiswi yang hadir dalam acara tersebut. Bagaimana pengalamannya menjadi seorang Redaktur di salah satu kantor berita Turki, Andolu Agency.
Walaupun buku ini mengkaji media Islam dengan format lama (cetak), sebagai langkah awal, menjadi pintu masuk untuk mengkaji media massa Islam yang lebih baru.
Laporam: Kiki Firmansyah




