Internasional

Kebijakan dan Penjelasan Taliban tentang Isu Media Terkait Islamic State

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Banyak media melaporkan bahwa Rusia telah membangun  hubungan komunikasi  dengan Imarah Islam Afghanistan (Taliban) untuk menghadapi ancaman kelompok Islamic State (IS) di Afghanistan, tetapi kenyataannya adalah bahwa Rusia belum pernah sekalipun menghubungi Imarah Islam mengenai masalah ini, lansir Al Emarah News, Jumat (01/01/2016).

Jika Imarah Islam berhasil memerangi kekuatan koalisi militer sebanyak 49 negara yang didukung oleh bantuan ekonomi dan logistik dari banyak Negara, maka isu bahwa Imarah Islam membutuhkan dukungan asing untuk mengalahkan kelompok orang bersenjata yang terkait dengan IS tidaklah masuk akal.

Manusia menciptakan masyarakat madani dan kata 'Insan' (Manusia) diambil dari akar kata 'Anas' yang berarti cinta, kasih sayang, kedekatan dan komune. Manusia individu maupun komunal memiliki kebutuhan alami untuk berinteraksi dan memiliki hubungan dengan manusia lain.

Sejarah mencatat bahwa tidak pernah ada setiap individu manusia atau masyarakat yang tidak berinteraksi, berbicara atau memiliki hubungan dengan manusia lain. Setiap orang berinteraksi dan memiliki hubungan dengan tetangga dan individu lainnya dimana ia berbagi minat yang sama.

Rasulullah (damai dan berkah besertanya) juga memiliki saluran komunikasi dan hubungan dengan orang-orang kafir. Berdasarkan hubungan ini ia membuat perjanjian dengan orang-orang Yahudi Madinah dan kemudian duduk bersama dan mengadakan pembicaraan dengan berbagai kepala suku Arab hingga mengadakan dialog langsung dengan kerajaan besar melalui delegasi mereka sehingga Imarah di Madinah dapat mengejar kepentingannya dengan aman, berdiri di atas kaki sendiri dan terlindung dari bahaya tambahan yang tidak diinginkan.

Membangun kontak dan mengirim delegasi ke pemerintah atau tokoh politik yang dekat dan jauh untuk menyampaikan pesan seseorang dan mendengarkan pandangan mereka adalah bagian besar dari politik Nabi. Ini adalah metodologi Nabi Saw yang jelas yang sayangnya ditentang oleh berbagai kelompok yang memegang sikap permusuhan mutlak terhadap negara-negara lain karena pemahaman dan penilaian menyimpang sehingga memberi label bagi kontak politik mereka sebagai murtad.

Dari sudut pandang politik internasional membangun hubungan dengan tokoh atau pemerintah lain bukanlah sebuah tindakan yang harus dijauhi. Musuh bahkan diketahui memiliki saluran komunikasi yang terbuka satu sama lain dalam keadaan paling panas sekalipun. Hubungan politik pada kenyataannya adalah siasat yang sapat dimanfaatkan oleh semua pihak dalam rangka mengejar kepentingan yang sama sekali tidak berhubungan dengan subjek paksaan atau keharusan dan juga tidak berarti satu sisi mengontrol sisi lainnya.

Namun yang harus dijauhi dalam politik internasional adalah ketika satu pihak tergantung pada pihak yang lain. Ketergantungan berarti hubungan antara dua pihak di mana pihak yang satu memiliki kontrol atas yang lain. Misalnya komunis Afghanistan tidak memiliki hubungan tetapi tergantung pada Soviet karena komunis ini digunakan sebagai mainan remote control yang dimanfaatkan untuk bekerja mendukung tujuan politik, intelektual, ekonomi dan budaya Soviet.

Banyak orang menuduh Taliban tergantung pada Pakistan tapi tuduhan ini jauh dari kebenaran. Tuduhan ini berarti bahwa Taliban dikendalikan oleh Pakistan dan bekerja untuk kepentingan Pakistan terlepas dari fakta bahwa tidak pernah ada sedikit pun bukti yang bisa mendukung klaim ini. Jika Pakistan memiliki kontrol atas Taliban maka pasti mereka akan mengadopsi model pemerintahan Pakistan bukan pelaksanaan Syariah seperti pemerintahan Kabul yang menyalin model Amerika hingga detail terakhir.

Pada kenyataannya Taliban sebagai gerakan politik terikat dan wajib memiliki hubungan dengan negara-negara di dunia terutama negara-negara tetangga, mengadakan pertemuan dengan mereka melalui delegasi, untuk menyampaikan pesan mereka dan mendengarkan kekhawatiran dari sisi lain.

Mengingat metodologi politik Imarah Islam Nabi Saw yang berusaha melindungi dan memberikan preferensi untuk kepentingan yang lebih tinggi, tidak ingin bermusuhan dengan orang lain tanpa alasan dan ingin melakukan upaya politik berbarengan dengan usaha militer untuk mencapai tujuan.

Imarah Islam secara rutin telah menjelaskan kebijakan mereka kepada negara-negara tetangga, regional dan dunia: Sama seperti kita tidak akan mentolerir gangguan kekuatan asing di tanah air kita tercinta, kita juga sama tidak memiliki niat untuk merugikan orang lain.

Berdasarkan tuntutan yang sah dan kebijakan yang jelas, Imarah Islam tidak percaya pada pembatasan diplomatik melainkan berusaha untuk memiliki hubungan berdasarkan saling menghormati dengan semua bangsa di kawasan dan dunia termasuk tetangga.

Ketika kita menjalin hubungan dengan berbagai pihak maka hal itu tidak akan merugikan prinsip-prinsip Islam, ibadah kita kepada Allah dan kepentingan bangsa kita; karena perjuangan kita dimulai dan terus berlanjut dengan tujuan menegakkan Kalimat Allah Swt dan mencapai keridhoan-Nya oleh karena Imarah Islam tidak akan pernah melakukan tawar menawar terhadap tujuan dan kepentingan murni mereka.

Imarah Islam telah berhasil melewati banyak tahapan kritis beberapa dekade terakhir dan dengan bantuan Allah Yang Maha Kuasa akan terus tetap setia membela kepentingan Islam dan membangun bangsa yang mulia di masa depan, In syaa Allah.

Deddy | Al Emarah News | Jurnalislam

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button