Koalisi Arab : Houthi Langgar Gencatan Senjata Yaman
YAMAN (Jurnalislam.com) – Houthi Yaman dituduh melanggar gencatan senjata kemanusiaan di negara itu dalam 24 jam pertama, karena masih terjadi pertempuran lanjutan dengan pihak saingan di beberapa bagian negara.
"Pemberontak Houthi telah melanggar gencatan senjata," koalisi yang dipimpin Arab Saudi mengatakan dalam sebuah pernyataan oleh pejabat Saudi kepada Press Agency pada hari Kamis (14/05/2015).
Pernyataan tersebut menyebutkan dugaan 12 pelanggaran gencatan senjata, di sepanjang perbatasan Saudi-Yaman dan di Yaman sendiri.
Kekerasan terberat di wilayah itu terjadi di provinsi barat daya Taiz, di mana Houthi dan sekutu mereka, yaitu pasukan yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, menyerang daerah pemukiman.
Pertempuran juga dilaporkan di kota selatan Ad-Dali ', saat pemberontak menembakkan peluru tank, roket dan mortir terhadap posisi milik pasukan yang setia kepada Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Di kota pelabuhan Aden, kapal perang koalisi dikerahkan di lepas pantai menghantam pemberontak di daerah yang merupakan gudang tangki bahan bakar.
Sementara itu, pernyataan kementerian pertahanan Saudi juga menuduh Houthi melanggar gencatan senjata dengan menembak ke daerah perbatasan Saudi Jizan dan Najran.
Dikatakan bahwa angkatan bersenjata kerajaan sedang berlatih sambil menahan diri sebagai bagian dari komitmen mereka untuk gencatan senjata.
Houthi telah mengindikasikan bahwa mereka akan mematuhi gencatan senjata, yang diusulkan oleh Arab Saudi dan didukung oleh AS untuk memungkinkan bantuan ke negara yang oleh badan pangan PBB, pada hari Rabu digambarkan dalam situasi "bencana".
Ketika lembaga bantuan mengatakan mereka mulai memberikan bantuan, warga ibukota, Sanaa, mengatakan bahwa gencatan senjata merupakan bantuan yang sangat dibutuhkan.
Lebih dari 1.500 orang telah tewas sejak pertengahan Maret dalam serangan udara dan pertempuran antara Houthi dan loyalis Hadi, menurut PBB.
Pemberontak Syiah Houthi, yang bersekutu dengan unit tentara yang setia kepada mantan presiden Saleh, telah menguasai sebagian besar Yaman, termasuk Sanaa, dan maju ke kubu Hadi di selatan yaitu Aden namun mendapatkan perlawanan sengit dari pejuang pejuang Al Qaida di Yaman (AQAP) dan suku suku Sunni, ketika koalisi Arabmeluncurkan serangan udara. Hadi sejak itu melarikan diri ke Arab Saudi.
Dalam perkembangan terpisah, utusan PBB untuk Yaman yang baru, Ismail Ould Cheikh Ahmed, bertemu dengan para pemimpin partai yang berkuasa di masa pemerintahan Saleh, General People's Congress (GPC).
Ahmed mengatakan ia bermaksud untuk bertemu dengan para pemimpin politik Yaman secara terpisah sebelum dilakukan pembicaraan damai yang akan menyatukan mereka bersama-sama untuk memetakan cetak biru politik Yaman.
Deddy | Aljazeera | Jurniscom




