Militer Filipina Sesumbar Perang Lawan Pejuang Maute akan Segera Berakhir

FILIPINA (Jurnalislam.com) – Pasukan pemerintah Filipina yakin bahwa akhir pertempuran di Kota Marawi sudah dekat dan menyatakan harapannya, Senin (28/8/2017), bahwa kemenangan akan terjadi “dalam beberapa hari”, lansir Anadolu Agency.
Juru bicara militer Edgar Arevalo mengulangi bahwa pertempuran tersebut terjadi dalam area seluas 500 meter persegi dengan 50-60 gerilyawan yang tersisa secara intensif mempertahankan posisi terakhir mereka melawan pasukan pemerintah.
“Kami terus waspada karena kami tahu bahwa mereka berada di posisi terakhir mereka,” kata Arevalo seperti dikutip oleh ABS-CBN.
“Mereka pasti akan memanfaatkan kesalahan apapun. Mereka telah menanam alat peledak improvisasi di dalam wilayah konflik dan akan menggunakan sandera sebagai perisai manusia.”
Terlepas dari intensitas pertempuran, pasukan memiliki semangat tinggi menyusul kunjungan terakhir Presiden Rodrigo Duterte.
Lebih dari 300 tentara, yang terluka pada masa awal pengepungan tersebut, kembali berada di garis depan zona pertempuran karena berkeinginan untuk “membantu rekan mereka dan ikut ambil bagian untuk membebaskan kota”.
Arevalo juga mengungkapkan bahwa kesaksian sandera yang lolos dari penculik mengungkapkan bahwa prajurit anak-anak berperang bersama dengan para milisi.
“Menurut warga sipil, ada anak-anak, anak di bawah umur di antara jajaran Maute. Pejuang Maute bisa meyakinkan mereka, telah mempersenjatai mereka dan mereka sekarang melawan tentara kita.”
Pejuang Maute dikatakan secara aktif merekrut anak-anak, pemuda, menawarkan orang tua mereka untuk mengajari Alquran, kemudian memberi mereka senjata api, mengajari mereka cara membunuh musuh.
Krisis di Marawi mengakibatkan 772 kematian termasuk 597 milisi, 130 tentara pemerintah dan 45 warga sipil, menurut militer Filipina.
Krisis ini juga menciptakan krisis kemanusiaan yang besar, menggusur hampir 400.000 orang dari kota dan desa-desa terdekat.
Pertarungan di Marawi mendorong Presiden Rodrigo Duterte untuk menempatkan semua wilayah Mindanao di bawah keadaan darurat militer pada tanggal 23 Mei, yang diperkirakan tidak akan berakhir sampai akhir tahun ini.



