Muslim Krimea Tatar Peringati Tahun ke 71 Kejahatan Berat Rezim Soviet
ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Muslim Tatar Krimea di Istanbul berkumpul di luar Konsulat Rusia di Turki untuk menghormati mereka yang meninggal saat deportasi paksa Tatar Krimea tahun 1944, setelah sebelumnya mereka dilarang memperingati peristiwa tersebut melalui demonstrasi peringatan tradisional mereka.
"Siapapun yang memiliki hati nurani tidak akan pernah melupakan rasa sakit dan kekejaman yang disebabkan oleh pembuangan tersebut," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (18/05/2015) menandai ulang tahun ke-71 deportasi massal Tatar Krimea oleh pemerintahan Soviet, Anadolu Agency melaporkan.
"Turki akan terus berdiri memperjuangkan rakyat muslim Krimea Tatar agar bisa hidup sejahtera dan aman di tanah air mereka," tambah Erdogan.
Di luar Konsulat Rusia di Turki, ratusan berkumpul untuk menandai ulang tahun yang menyedihkan itu.
"Praktis tidak ada kompensasi kerusakan moral dan materi yang telah diberikan kepada Tatar Krimea sehubungan dengan genosida tahun 1944, juga belum ada upaya pemulihan hak nasional mereka di tanah air," anggota dari Asosiasi Kebudayaan dan Gotong Royong Tatar Krimea (Crimean Tatar Association of Culture and Mutual Aid ) membaca pernyataan sehubungan dengan ulang tahun ke-71 deportasi Krimea Tatar, Badan Berita Crimean (QHA) melaporkan pada Senin (18/05/2015).
Pernyataan itu juga menunjukkan tekanan yang diberikan pada muslim Tatar Krimea, termasuk pembunuhan, pemukulan, penangkapan dan larangan masuk ke semenanjung bagi aktivis Krimea Tatar.
Mei ini memperingati tahun ke-71 dari salah satu kejahatan paling berat yang dilakukan oleh rezim Soviet, Forbes melaporkan.
Pada tahun 1944, dengan tuduhan palsu pengkhianatan negara, pemimpin Soviet Joseph Stalin memerintahkan 238.500 rakyat Tatar secara paksa dideportasi dari tanah air mereka di Krimea sebagai bentuk hukuman kolektif untuk dugaan kolaborasi mereka dengan Nazi.
Seluruh muslim penduduk Krimea Tatar, sekitar seperlima dari total penduduk Semenanjung Krimea, serta sejumlah kecil etnis Yunani dan Bulgaria, diambil dari rumah mereka dan sebagian besar diangkut ke Uzbekistan.
Antara Juli 1944 dan Januari 1947, hampir 110.000, atau 46% dari rakyat yang dideportasi, meninggal karena kelaparan dan penyakit.
Soviet menyita rumah mereka, menghancurkan masjid-masjid dan mengubahnya menjadi gudang. Sebuah masjid diubah menjadi Museum of Atheism.
Kesengsaraan ini dihidupkan kembali akibat kebijakan Rusia yang menekan muslim Tatar Krimea baru-baru ini.
"Mereka yang dideportasi oleh Stalin Uni Soviet mengalami penderitaan yang tak terkatakan, kelaparan, kematian, dan penyakit selama perjalanan panjang mereka ke Ural, Asia Tengah, dan Siberia, diikuti oleh puluhan penganiayaan dan tuduhan palsu oleh pemerintah Soviet," kata Departemen Luar Negeri AS dalam siaran pers yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei.
"Sementara kakek-nenek mereka dipaksa untuk hidup di pengasingan dan penindasan, serta banyak dari keturunan mereka tidak pernah kembali, hari ini Tatar Krimea juga menghadapi represi dan diskriminasi di wilayah Krimea yang diduduki Rusia, tanpa perwakilan dan tidak memiliki jalan lain.
"Kami bergabung dengan Tatar Krimea dan semua orang Ukraina dalam memperingati ulang tahun yang khusyuk ini, dan kita mengingat orang-orang yang kehilangan nyawa mereka atau yang menderita di bawah penindasan, baik pada tahun 1944 maupun tahun 2015.”
"Kami mengutuk upaya ilegal Rusia untuk mencaplok Crimea, dan menyerukan diakhirinya pendudukan Rusia. Kami juga menegaskan kembali dukungan kami untuk kedaulatan Ukraina dan integritas teritorial dan komitmen kami untuk hak asasi manusia semua orang Ukraina, termasuk di Krimea, "tambah mereka.
300.000 minoritas Muslim yang kuat merupakan 15% dari populasi Crimea yang berjumlah 2 juta dan sejauh ini sangat menentang aneksasi Rusia terhadap semenanjung.
Langkah Rusia mencaplok Crimea mengikuti keputusan sebelumnya pada bulan Maret mengenai masa depan semenanjung.
Referendum yang disetujui oleh 96% suara, diikuti oleh beberapa langkah parlemen pro-Moskow Krimea, mengeluarkan undang-undang yang memungkinkan aneksasi Rusia terhadap semenanjung yang disengketakan.
Referendum yang diselenggarakan dengan terburu-buru pada 16 Maret diboikot oleh Tatar yang menolak karena diadakan di bawah todongan senjata dan di bawah tatapan tentara Rusia.
Setelah aneksasi Rusia terhadap Krimea, kekhawatiran Muslim Tatar meningkat dua kali lipat, menyuarakan kekhawatiran merekan atas kehilangan kebebasan dan menghidupkan kembali kenangan pengasingan dan penuntutan yang mereka hadapi di tahun 1940-an.
Deddy | On Muslim | Jurniscom


