Pasukan Zionis dan Pemukim Yahudi Israel mulai Terjangkit Paranoid
PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan keamanan Israel dan pemukim yahudi telah menyerang sesama warga Yahudi Israel setelah keliru mengidentifikasi mereka sebagai orang Palestina, Aljazeera melaporkan, Kamis (22/10/2015)
Tentara zionis keliru menembak mati seorang pria Yahudi Israel yang disangka seorang penyerang Palestina, kurang dari sepekan setelah seorang pengungsi Eritrea yang disangka penyerang Palestina, dibunuh.
Rasa paranoia melanda Israel dan wilayah yang diduduki dalam beberapa pekan terakhir di tengah kekerasan baru setelah pasukan Israel membunuh sedikitnya 52 warga Palestina termasuk orang yang diduga sebagai penyerang. Sepuluh warga Israel tewas dalam aksi intifadah Palestina dan ratusan lainnya luka-luka.
Menurut juru bicara polisi Israel Micky Rosenfeld, korban pembunuhan terbaru pada hari Rabu itu menolak untuk memberikan kartu identitasnya kepada tentara, lalu mulai meninju mereka dan berusaha untuk merebut salah satu senjata mereka. Dia ditembak mati di tempat kejadian.
Yehuda Meshi Zahav, anggota tim medis darurat ZAKA yang dipanggil ke tempat kejadian, mengatakan kepada Jerusalem Post lokal bahwa ia juga keliru karena menyangka pria itu adalah orang Palestina.
"Saya ingin menutupi jasadnya dalam tas hitam (yang disediakan untuk terduga penyerang)," katanya. "Setelah saya diminta untuk mengurus jasadnya saya melihat bahwa dia adalah seorang Yahudi, dan bahwa itu adalah kesalahan menyangka dia sebagai teroris. Saya segera memberitahu polisi dan kita pindahkan ke kantong mayat ZAKA putih."
Dengan banyaknya protes terhadap pendudukan Israel yang menyebar ke seluruh Tepi Barat yang diduduki zionis, termasuk Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza sejak 1 Oktober, pasukan Israel telah merespon dengan keras, menyerang pengunjuk rasa dan memberlakukan pembatasan ketat pada gerakan Palestina.
Pembunuhan hari Rabu itu terjadi hanya beberapa hari setelah Haftum Zarhum, seorang pencari suaka Eritrea, tewas setelah ditembak oleh polisi yahudi dan digantung oleh massa Israel.
Pada Ahad malam, Zarhum ditembak oleh polisi zionis setelah keliru disangka penyerang Palestina. Seorang pemukim Israel, termasuk seorang prajurit, menendangnya, memukulinya dengan kursi dan membanting bangku di kepalanya.
Awal bulan ini, seorang Israel menikam pria Yahudi lain karena ia disalahpahami sebagai Palestina dalam aksi yang dimaksudkan untuk serangan "balas dendam". Korban terluka dan dirawat di rumah sakit.
Ketika ditanya apa latar belakang di balik tren keliru identitas ini, Majd Kayyal, koordinator media untuk Pusat Hukum Hak Minoritas Arab Adalah (Adalah Legal Centre for Arab Minority Rights), mengatakan bahwa masyarakat Israel menjadi hyperfocused pada "identitas Eropa".
"Gagasan bahwa semua warga Yahudi Israel adalah satu kebangsaan adalah palsu," kata Kayyal kepada Al Jazeera, menolak pasukan keamanan yang mengasosiasikan identitas Israel sebagai "berkulit putih [dan] Eropa".
Kelompok-kelompok HAM juga telah mengecam para pemimpin Israel yang sengaja menyuruh warga sipil Israel membawa senjata setelah terjadi lebih dari 30 insiden penusukan terhadap zionis yahudi bulan ini dalam aksi perlawanan rakyat Palestina.
"Masalahnya adalah bahwa politisi Israel memberi perintah yang jelas kepada rakyatnya meminta mereka untuk membawa senjata – dan siapa saja yang akan melakukan serangan menusuk harus tewas seketika," kata Kayyal.
Pada hari Senin, sembilan kelompok hak asasi manusia Israel dan Palestina mempublikasikan pernyataan bersama mengutuk apa yang mereka sebut "kebijakan Israel menembak-untuk-membunuh".
"Politisi dan pejabat senior polisi Israel tidak membantu meredakan ketegangan dan menenangkan masyarakat Israel," kata pernyataan itu. "Sebaliknya, mereka menyerukan warga Israel untuk membawa senjata dan untuk membunuh rakyat Palestina hanya berdasarkan perkiraan."
Deddy | Aljazeera | Jurniscom


