PBB Cabut Sanksi Pemimpin Hezb Hezb-i-Islami, Afghanistan

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – PBB mencabut sanksi terhadap Gulbuddin Hekmatyar, pemimpin kelompok Hezb-i-Islami di Afghanistan dan salah satu tokoh paling terkenal dalam perang Afghanistan pada 1990-an, Aljazeera melaporkan, Sabtu (04/02/2017).
Keputusan Dewan Keamanan PBB Jumat tersebut menyusul kesepakatan damai yang ditandatangani oleh pemerintah Afghanistan dan sebagian besar kelompok Hekmatyar pada bulan September.
Kesepakatan itu memberikan amnesti bagi Hekmatyar atas pelanggaran masa lalu dan memberikan hak-hak politik penuh kepadanya. Kesepakatan ini juga memungkinkan untuk membebaskan tahanan Hezb-i-Islami tertentu.
Dalam sebuah pernyataan, Dewan Keamanan mengatakan telah membekukan aset Hekmatyar, serta larangan melakukan perjalanan dan embargo senjata terhadap dirinya.
Hekmatyar adalah salah satu pemimpin yang paling berpengaruh dalam memerangi pasukan Soviet pada 1980-an. Dia menerima posisi perdana menteri sebentar dalam pemerintahan setelah runtuhnya pemerintahan yang didukung Soviet pada tahun 1992.
Setelah dicap sebagai “tukang daging dari Kabul”, Hekmatyar dituduh membunuh ribuan orang ketika para pejuangnya menembak daerah sipil di ibukota, Kabul, selama perang saudara 1992-1996di negara itu.
Keberadaan Hekmatyar tidak diketahui tetapi Ghairat Baheer, ketua perunding Hezb-i-Islami, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa, dengan dihapusnya sanksi saat ini, ia akhirnya akan kembali ke ibukota Afghanistan.
“Hekmatyar bersembunyi di Afghanistan tetapi setelah keputusan PBB tersebut ia akan segera muncul di salah satu provinsi dan kemudian akan datang ke Kabul,” kata Baheer.
Keputusan PBB bisa membuka jalan bagi kelompok-kelompok bersenjata lainnya, seperti Taliban, untuk melakukan perundingan perdamaian, menurut Baheer.
Dia juga mendesak pemerintah Afghanistan untuk melaksanakan perjanjian perdamaian yang “lengkap dan jujur” September ini dan menentang campur tangan kekuatan asing dalam urusan Afghanistan.
“Perdamaian lebih sulit untuk dicapai daripada perang, dan kami telah melakukan itu, kami telah mengambil langkah-langkah untuk mencapai perdamaian di Afghanistan,” katanya.
Pasukan NATO secara resmi mengakhiri misi tempur mereka pada bulan Desember 2014. Namun, pada bulan Juli tahun lalu tentara AS mengirimkan kekuatan yang lebih besar untuk meluncurkan serangan terhadap mujahidin Taliban saat mantan Presiden Barack Obama menjanjikan operasi yang lebih agresif.
AS masih menempatkan sekitar 8.400 tentara di negara itu.



