Internasional

Pemberontak Syiah Yaman Sandera Anggota Medis Internasional

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pemberontak Syiah Houthi di Yaman menahan lima anggota staf International Medical Corps dan dua supir sewaan, organisasi bantuan dan sumber lokal mengatakan pada hari Sabtu (1/4/2017), lansir Middle East Eye.

Para pemberontak menuduh pekerja medis tersebut adalah mata-mata intelijen asing, menurut pejabat keamanan. Mereka merampok hotel yang digunakan kelompok kemanusiaan di provinsi Ibb dan menahan anggota kelompok itu ke sebuah penjara di ibukota, Sana’a.

“Kami memastikan agar masalah ini bisa diselesaikan secepatnya,” kata badan bantuan berbasis di Los Angeles tersebut dalam sebuah pernyataan yang diposting pada Jumat di situs mereka.

Pemberontak Syiah Houthi telah mencegat 63 kapal dan 223 konvoi yang membawa bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah di bawah kendali mereka sejak mendepak Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi dari Sana’a pada awal tahun 2015, menurut Associated Press.

Organisasi non-pemerintah menolak mengungkapkan rincian, tetapi seorang pejabat bantuan Yaman mengatakan kepada AFP bahwa staf yang ditahan semuanya warga Yaman.

Situs organisasi mengatakan bahwa mereka memiliki lebih dari 150 staf lokal di Yaman dan bahwa mereka telah beroperasi sejak 2012 dari tiga kantor di negara Semenanjung Arab.

Ia mengatakan upaya bantuan terus menopang kelangsungan hidup banyak keluarga di ibukota yang dikuasai pemberontak dan di juga Ibb, serta di kota barat daya Taez dan Aden serta Lahj di selatan.

Pemberontak Syiah Houthi dan sekutu mereka menguasai sebagian besar utara dan barat Yaman, sedangkan pasukan yang setia kepada Hadi, yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi, mengontrol selatan dan timur.

Lembaga kemanusiaan telah lama mengeluhkan kurangnya akses menuju keluarga yang membutuhkan bantuan di Yaman yang tengah dilanda perang.

PBB mengatakan tujuh juta orang menghadapi risiko kelaparan serius kecuali lembaga internasional campur tangan, dan menyerukan $ 2.1 milyar bantuan kemanusiaan.

Lebih dari 7.700 orang telah tewas sejak koalisi campur tangan pada bulan Maret 2015, sebagian besar dari mereka warga sipil, menurut laporan the World Health Organization (WHO).

Related Articles

Back to top button