Pemimpin Syiah Houthi Bersumpah : Kami Tidak Akan Pernah Menyerah Melawan Saudi
YAMAN (Jurnalislam.com) – Abdelmalik al-Houthi mengatakan dia "tidak akan pernah menyerah" bahkan jika koalisi yang dipimpin Saudi terus menghantam lokasi-lokasi yang mereka kuasai.
Pemimpin kelompok pemberontak Houthi Yaman bersumpah bahwa ia "tidak akan pernah menyerah" melawan perang udara yang dipimpin Saudi, dan mengatakan bahwa Yaman memiliki hak untuk menolak "agresi" dengan cara apapun.
"Pejuang Yaman kami tidak akan pernah menyerah," kata Abdelmalik al-Houthi dalam pidato televisi pada hari Minggu (19/04/2015), pada hari ke-25 serangan udara yang menargetkan kelompok pemberontak itu.
Pemimpin pemberontak Houthi berjanji untuk melakukan perlawanan tangguh dengan menggunakan "segala cara dan pilihan" yang tersedia, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Saudi mengatakan Syiah Houthi menjalin aliansi dengan Syiah Iran untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Pada hari Ahad, juru bicara koalisi yang dipimpin Saudi, Ahmed Asseri mengatakan pertempuran dan serangan udara yang menargetkan Houthi dilancarkan ke seluruh Yaman.
Dia mengatakan bahwa setidaknya 106 serangan udara telah diluncurkan terhadap Houthi di kota-kota Sanaa dan Sadaa, menargetkan fasilitas penyimpanan "rudal balistik" mereka.
Di kota pelabuhan selatan Aden, kota terbesar kedua Yaman, pasukan yang setia kepada Hadi pada hari Ahad kembali menguasai wilayah garis pantai yang selama ini dipegang oleh pasukan Houthi dan pasukan loyalis mantan presiden Ali Abdullah Saleh, pejabat keamanan mengatakan kepada kantor berita Associated Press.
Posisi tersebut memungkinkan mereka untuk menyerang bandara yang dikuasai pemberontak Houthi dan memotong pasokan untuk pasukan anti-Hadi, kata mereka.
Komandan Yaman dari distrik militer yang luasnya menutupi setengah perbatasan negara itu dengan Arab Saudi juga telah menjanjikan dukungan pada hari Ahad kepada Presiden Hadi yang sedang berada di pengasingan, kata para pejabat setempat.
Setidaknya 15.000 tentara ditempatkan di daerah perbatasan dengan Arab Saudi, yang selama ini mendukung Hadi dan telah melancarkan pemboman tiga minggu melawan pemberontak Houthi, yang bersekutu dengan Syiah Iran.
"Brigadir Jenderal Distrik Militer Pertama Abdulrahman al-Halily hari ini mengumumkan dukungannya bagi legitimasi konstitusional yang diwakili oleh Presiden Hadi," salah seorang pejabat mengatakan kepada Reuters.
Sebagian besar militer Yaman yang setia kepada mantan presiden kuat Ali Abdullah Saleh berjuang bersama pemberontak Houthi dalam pertempuran yang membentang di Yaman selatan dan timur.
Namun pembelotan pasukan di timur laut membuat sekitar 10 divisi berbalik mendukung Hadi.
Reporter Al Jazeera Mohammed Vall, yang melaporkan dari Jizan di perbatasan Arab Saudi dengan Yaman, mengatakan bahwa meskipun para loyalis Hadi telah menguasai sebagian wilayah, mereka masih belum memiliki komandan pusat untuk memimpin mereka.
Pertempuran yang intensif pada akhir Maret ketika koalisi yang dipimpin Saudi mulai meluncurkan serangan udara, menempatkan Houthi melawan pasukan yang setia kepada Hadi.
Pada hari Ahad, para pejabat juga mengatakan bahwa pasukan pemberontak gagal saat mencoba untuk mengambil daerah Dar Saad, di utara Aden. Mereka meminta anonimitas karena tidak berwenang untuk member pernyataan kepada wartawan.
Sementara itu di Amman, PBB mengatakan Arab Saudi telah setuju untuk mendanai sepenuhnya sejumlah $ 273.700.000 untuk bantuan darurat demi menghindari bencana kemanusiaan di Yaman.
Dengan berlanjutnya pertempuran, partai politik Saled mengatakan pada hari Minggu bahwa ia menyambut resolusi PBB yang menyerukan gencatan senjata di negara itu, dan mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik, termasuk Saudi, untuk mengamati hal itu.
"(Partai) menyambut seruan Sekretaris Jenderal PBB untuk gencatan senjata bagi semua pihak dan melanjutkan dialog di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” katanya. Partai juga menambahkan bahwa mereka mendesak pihak "dalam dan luar” negara tersebut untuk menanggapi himbauan PBB tersebut.
Pasukan pro-Saleh berjuang bersama pemberontak Houthi, yang telah merebut ibukota, Sanaa, dan memperluas kekuasaannya ke kota-kota lainnya namun Al Qedah Yaman (AQAP) membendung pergerakan mereka.
Deddy | Aljazeera | Reuters | AP | Jurniscom




