Internasional

Pertempuran Sengit Kembali Terjadi Ditengah Pengumuman Gencatan Senjata di Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Serangan udara koalisi arab dan penembakan berat antara faksi-faksi mengguncang beberapa kota di Yaman, meski gencatan senjata kemanusiaan PBB mulai berlaku tepat sebelum tengah malam.

Gencatan pada hari Sabtu (11/07/2015) itu dimaksudkan berlangsung seminggu untuk memungkinkan pengiriman bantuan ke 21 juta warga negara yang sebagian besar membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Serangan udara menghantam pasukan Houthi dan unit tentara Yaman di ibukota Sanaa dan di kota-kota selatan Taiz dan Aden, di mana warga juga melaporkan serangan artileri intens antara pejuang dan milisi lokal, menurut kantor berita Reuters.

Di Aden, salah satu daerah perang yang paling miskin, saksi mata mengatakan pasukan Houthi menembakkan mortir dan roket Katyusha ke arah pejuang oposisi yang berbasis di wilayah utara dan di sekitar bandara internasional kota.

Brigadir Jenderal Ahmad Asseri, seorang juru bicara militer Saudi yang memimpin koalisi Arab, sebelumnya mengatakan koalisi perlu memastikan bahwa Houthi akan menghormati gencatan senjata dan persyaratan perjanjiannya.

Pemimpin Houthi Abdelmalik al-Houthi mengatakan gencatan senjata harus mensyaratkan "komitmen rezim dan tentara bayaran mereka".

Hakim al-Masmari, editor-in-chief dari Yaman Post, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa rakyat Yaman selalu memandang bahwa gencatan senjata sifatnya rapuh.

"Ada banyak serangan udara di berbagai provinsi. Tidak ada yang mengharapkan bahwa gencatan senjata akan berhasil karena Yaman adalah negara tanpa hukum, yang dikendalikan oleh militan dan bukan pemerintah," kata Masmari.

"Ini adalah gencatan senjata versi Yaman, yang berarti kita hidup di negara tanpa hukum atau negara tanpa pemerintah."

Stephane Dujarric, juru bicara PBB, pada hari Jumat mengatakan, "Situasinya sudah sangat penting dan mendesak agar bantuan kemanusiaan dapat menjangkau semua rakyat Yaman yang rentan tanpa hambatan dan melalui jeda kemanusiaan tanpa syarat".

Lebih dari 80 persen dari 25 juta orang di negara tersebut diyakini membutuhkan beberapa bentuk bantuan darurat.

Pengumuman itu terjadi tak lama setelah utusan PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, melakukan negosiasi di Sanaa antara pemberontak Houthi dan pejabat pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang berada di pengasingan.

Reporter Al Jazeera Kristen Saloomey, melaporkan dari markas PBB di New York, pada hari Jumat mengatakan bahwa lembaga-lembaga bantuan telah siap untuk bergerak secepat gencatan senjata itu dimulai.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button