Internasional

Rencana DK PBB Jatuhkan Sanksi pada Rezim Suriah Diblokir Rusia dan China

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Rusia dan China, pada hari Selasa memblokir rencana resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap rezim Suriah karena melancarkan serangan senjata kimia, Anadolu Agency melaporkan Selasa (28/02/2017).

Rusia menyebut proposal itu sebuah “provokasi untuk mendiskreditkan pemerintah Suriah dan angkatan bersenjatanya”. Vladimir Safronkov, wakil tetap Rusia, mengatakan draft proposal itu bertujuan untuk “membuat alasan tambahan untuk mengganti rezim di Damaskus”.

Dua Negara anggota tetap DK PBB itu telah melindungi rezim Bashar al-Assad dari sanksi internasional selama perang enam tahun.

Ambassador AS Nikki Haley menyebut keputusan Dewan menjadi “pilihan menyakitkan dan tidak boleh dibela”.

“Ini adalah hari yang menyedihkan di Dewan Keamanan ketika anggota mulai membuat alasan bagi negara-negara anggota lainnya yang membunuh rakyat mereka sendiri. Dunia ini sudah menjadi tempat yang lebih berbahaya,” kata Haley.

Perwakilan tetap U.K. Matthew Rycroft mengatakan, “Kami tidak akan menyerah memperjuangkan keadilan bagi Suriah.”

Menangani sesi, Suriah juga mengatakan bahwa proposal itu menentang penggunaan senjata kimia dan mengatakan bahwa tindakan itu “bertentangan dengan etika”.

Diusulkan oleh Perancis, Inggris, dan AS, proposal resolusi itu akan memberlakukan sanksi terhadap 21 individu dan organisasi yang diduga telah terlibat dalam serangan senjata kimia Suriah.

Resolusi ini juga akan melarang pasokan helikopter kepada rezim Suriah, yang dikatakan digunakan oleh pasukan pemerintah untuk menjatuhkan senjata kimia.

Mosi DK PBB menerima sembilan dukungan dari 15 anggota dewan. Bolivia juga memilih menentang mosi sementara Mesir, Ethiopia dan Kazakhstan abstain.

Sebuah penyelidikan gabungan oleh PBB dan pengawas senjata kimia internasional telah menemukan pemerintah Suriah berada di balik sedikitnya tiga serangan yang melibatkan gas klorin.

Rancangan resolusi juga mempertanyakan deklarasi rezim Assad mengenai stok kimia, dan menyerukan penyelidikan lebih lanjut.

AS, yang mempelopori upaya untuk menghancurkan gudang senjata kimia Suriah setelah berputar-baliknya aksi militer pemerintahan Barack Obama pada 2013, mengakui pada Oktober lalu bahwa misi mereka itu “bukanlah suatu kemenangan”.

“Kami jelas tidak menghapus semua kapasitas mereka untuk membuat senjata kimia,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner pada saat itu.

Related Articles

Back to top button