Setelah 4 Hari Pertempuran Sengit, Armenia dan Azerbaijan Gencatan Senjata
KARABAKH (Jurnalislam.com) – Azerbaijan dan Armenia mengatakan mereka menghentikan perang setelah terjadi empat hari pertempuran sengit di antara mereka yang meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik bisa meluas menjadi perang habis-habisan, lansir Aljazeera, Selasa (05/04/2016).
Dalam sebuah pernyataan gencatan senjata, kementerian pertahanan Azerbaijan mengatakan: "Pada tanggal 5 April pukul 12:00 (0800 GMT), atas dasar kesepakatan bersama, aksi militer pada garis kontak antara angkatan bersenjata Armenia dan Azerbaijan dihentikan. "
Seorang pejabat angkatan bersenjata Nagorno-Karabakh yang didukung Armenia mengatakan kepada kantor berita Reuters, "Kami telah diperintahkan untuk menghentikan serangan."
Pembicaraan yang bertujuan mengakhiri kekerasan terburuk selama beberapa dekade di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh telah dimulai di Wina pada hari Selasa setelah 46 orang tewas dalam tiga hari pertempuran.
Rusia dan AS telah menyerukan diakhirinya pertempuran tapi Turki mendukung Azerbaijan, dan memprediksi wilayah yang direbut Armenia "suatu hari" akan dipulihkan.

Sebuah wilayah pegunungan yang terkurung daratan dengan mayoritas etnis Armenia bertempat tinggal di dalam Azerbaijan, Nagorno-Karabakh telah berada dalam sengketa sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.
Separatis yang didukung oleh Yerevan mengumumkan kesetiaan mereka kepada Armenia dan kemudian menyatakan diri sebagai republik merdeka, sebuah langkah yang belum diakui di tempat lain, termasuk oleh Armenia.
Dalam pertempuran sebelumnya, sekitar 30.000 orang meninggal dan ribuan orang dari kedua kelompok etnis meninggalkan rumah mereka.
Sebuah gencatan senjata yang ditengahi oleh Rusia ditandatangani pada tahun 1994, tetapi kedua negara tidak pernah menyepakati perdamaian abadi.
Azerbaijan mengumumkan gencatan senjata sepihak pada hari Ahad (03/04/2016), tetapi gagal menghentikan pertempuran, dan pada hari Senin Armenia yang mendapat dukungan dari Rusia mengatakan gencatan senjata akan terjadi hanya jika kedua belah pihak kembali ke posisi mereka sebelumnya.
Menteri pertahanan Azerbaijan Zakir Hasanov malah memerintahkan tentara untuk siap menyerang ibukota Karabakh, Stepanakert, yang menyatakan, jika Armenia terus melakukan pemboman terhadap sasaran sipil di Azerbaijan".
Ratusan relawan etnis Armenia sejak itu menuju ke kota tersebut untuk berperang bersama pasukan separatis, sementara pihak berwenang setempat sibuk mengorganisasi penampungan untuk pengungsi dari desa-desa garis depan pertempuran.
Deddy | Aljazeera | Jurnalislam



