Islamophobia

Skema Anti-Teror Inggris Memicu Islamophobia

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Sebuah organisasi Inggris, yang berkampanye "perang melawan teror",  kelompok Students Right, telah memicu Islamofobia dan membatasi kebebasan berbicara di kampus-kampus Inggris.

"Perguruan Tinggi memiliki landasan hukum sebagai benteng kebebasan berbicara dan tempat bagi ide-ide," kata direktur CAGE Dr Adnan Siddiqui dalam sebuah pernyataan yang diperoleh OnIslam.net.

"Dalam merangkul definisi luas dari 'ekstremisme' yang dimaksudkan oleh pemerintah, yang dapat diterapkan untuk mengeluarkan peserta yang tidak diinginkan dari wacana publik, apa yang dilakukan Students Right bertentangan langsung dengan prinsip-prinsip inti tersebut."

Tuduhan CAGE tersebut keluar setelah Students Right melaporkan skema kontra-terorisme pemerintah yaitu memberi stigma kepada CAGE karena membela tersangka teror.

Digambarkan sebagai kelompok "pro-teroris" oleh Students Right, CAGE menyebut tuduhan tersebut "fitnah" dan "tidak benar".

"Laporan yang  menunjukkan korelasi antara peristiwa yang terjadi di universitas dan terorisme, tidak ada bukti bahwa teroris menghadiri acara universitas," Siddiqui berpendapat.

"Data yang digunakan dalam laporan ini benar-benar tidak memadai bahkan membuat penilaian mengenai adanya korelasi, dan tidak menghubungkan keduanya melainkan hanya sindiran.

"Laporan ini malah menilai bahwa hanya dengan menjadi seorang mahasiswa Muslim di sebuah universitas di Inggris saat acara tersebut diadakan kemungkinan akan menjadi penyebab radikalisasi, sebuah asumsi yang dengan sendirinya bias."

Kelompok anti-Muslim secara luas ditolak oleh National Union of Students (NUS), the NUS Black Students’ Conference dan beberapa serikat mahasiswa termasuk LSE, UCL, Birkbeck, Queen Mary dan Kings College London.

Disponsori oleh think-tank neo-konservatif Henry Jackson Society (HJS), kelompok itu digambarkan dalam laporan Spinwatch sebagai "sangat dipengaruhi oleh Islamofobia dan menerima Perang Melawan Teror secara terbuka ".

Pada tahun 2014, Students Right, yang menghambat upaya pro-Palestina di kampus, merilis sebuah laporan yang dicap sebagai "perburuan" terhadap Muslim.

"Universitas Inggris memiliki tradisi melarang pembicara yang dianggap 'ekstrimis'. Penayangan pandangan yang bertentangan dengan pendapat mainstream diperlukan bagi masyarakat untuk menegakkan kebenaran. Banyak gerakan modern didirikan berdasarkan sesuatu yang dulunya dianggap ide 'ekstrimis', "kata Direktur CAGE.

Dia melanjutkan dengan mengatakan: "Upaya memberangus pandangan populer adalah pelanggaran nilai-nilai keterbukaan dan debat di Inggris.

"Jika pembicara dilarang, orang akan menemukan pengganti untuk bertukar pandangan jauh dari wacana publik, sehingga kecil kemungkinan mendapatkan tantangan."

Inggris adalah rumah bagi minoritas Muslim yang cukup besar yaitu sejumlah hampir 2,7 juta.

Sebuah jajak pendapat Financial Times menunjukkan bahwa  Inggris adalah negara yang paling mencurigai umat Muslim.

Deddy | OnIslam| Jurniscom

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button