Internasional

Turki Dukung Presiden Baru Gambia, Adama Barrow

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki menyambut presiden baru Gambia Adama Barrow pada hari Sabtu (21/01/2017) setelah krisis politik berakhir damai, lansir Anadolu Agency.

“Kami menyambut baik pengalihan kekuasaan kepada Adama Barrow, yang terpilih sebagai Presiden Gambia sesuai hasil pemilihan umum yang diselenggarakan pada 1 Desember 2016,” kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan.

“Kami menghargai sikap bijaksana yang ditunjukkan oleh rakyat Gambia selama periode ini sehingga membantu mencegah ketidakstabilan negara,” kata pernyataan itu.

Turki juga menyoroti bahwa Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat (the Economic Community of West African States-ECOWAS) telah memainkan peranan penting dalam proses ketika mantan presiden negara itu, Yahya Jammeh, menolak meninggalkan kantor setelah kalah dalam pemilu.

“Upaya komite mediasi yang terdiri dari para pemimpin regional dan didirikan atas prakarsa ECOWAS bertujuan untuk memastikan transfer kekuasaan telah memberikan contoh konkret lain dalam ‘menemukan solusi Afrika untuk masalah Afrika,'” tambah pernyataan itu.

Yahya Jammeh setuju untuk mundur Sabtu pagi, saat ia mengatakan dalam sebuah siaran nasional bahwa ia percaya tidak ada yang harus mati untuk memecahkan krisis politik yang mencengkeram negara kecil di Afrika Barat tersebut.

Jammeh dikalahkan oleh pemimpin koalisi oposisi Adama Barrow tapi menolak hasil satu pekan setelah pemungutan suara 1 Desember, mengklaim bahwa proses pemilihan tercemar dengan penyimpangan yang tidak dapat diterima.

Kunjungan pimpinan daerah ke Gambia dua kali gagal meyakinkan Jammeh untuk menyerahkan kekuasaan.

Barrow diresmikan hari Kamis di kedutaan Gambia di Dakar, Senegal, di mana pasukan blok regional ECOWAS dimobilisasi dan disiapkan untuk menggulingkan Jammeh jika ia menolak untuk mundur.

Sekitar 7.000 tentara ECOWAS bersiap memasuki Gambia. Sejumlah analis percaya pasukan keamanan Gambia bisa dikuasai dengan mudah dalam satu hari.

Seorang juru bicara Barrow pada hari Jumat mendesak Jammeh meninggalkan kantor untuk menghindari intervensi militer.

Pada hari Jumat, tentara dan kepala polisi meminta kepada 45.000 warga Gambia yang melarikan diri menghindari gejolak menuju Senegal untuk kembali ke Gambia, menurut PBB.

Related Articles

Back to top button