United Airlines Minta Maaf Setelah Pramugarinya Hina Seorang Muslimah di Pesawat
WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Seorang pramugari yang terlibat dalam keributan atas sekaleng Diet Coke yang diminta oleh seorang wanita Muslim, telah diskors, United Airlines mengatakan dalam pernyataan permintaan maaf kepada penumpang pada hari Rabu (03/06/2015).
Cerita tentang tokoh Muslim, Tahera Ahmad, saat meminta kaleng soda yang belum dibuka namun ditolak pramugari di tengah-tengah penerbangan, mendapat perhatian setelah ia menulis tentang hal itu hari Jumat di Facebook melalui postingan berjudul "air mata penghinaan dari diskriminasi."
"Pramugari bertanya apa yang ingin saya minum dan saya meminta sekaleng diet coke. Dia membawa saya sekaleng yang sudah terbuka jadi saya meminta kaleng yang belum dibuka karena alasan kesehatan," tulis Tahera Ahmad.
Tahera Ahmad mengatakan bahwa pramugari tersebut menolak dan mengatakan bahwa kaleng yang belum dibuka dapat digunakan sebagai senjata dan itu melawan kebijakan yang ada. Ketika Tahera Ahmad memprotes pada saat pramugari tersebut memberikan pria di sampingnya kaleng bir yang belum dibuka, pramugari itu mengulang perkataannya, "Saya lakukan supaya Anda tidak menggunakannya sebagai senjata."
Alih-alih mendapatkan dukungan dari penumpang lain, seorang pria yang berada di lorong pesawat jauh dari Tahera Ahmad menyebutkan agamanya dan berteriak, "Ya, Anda tahu Anda akan menggunakannya sebagai SENJATA jadi tutup mulutmu! (shut the f ** k up)" tulisnya.
Insiden dalam penerbangan dari Chicago ke Washington, DC – yang dioperasikan oleh Shuttle America – dianggap "kesalahpahaman" dalam sebuah pernyataan oleh United Airlines pada hari Ahad. Rabu kemarin adalah pertama kalinya United menyatakan permintaan maaf kepada Tahera Ahmad.
"Saat itu United tidak mengoperasikan penerbangan, Ms. Ahmad adalah pelanggan kami dan kami meminta maaf padanya atas apa yang terjadi selama penerbangan," katanya dalam sebuah pernyataan. "Setelah menyelidiki masalah ini, United telah memastikan bahwa pramugari tersebut, seorang karyawan Shuttle America, tidak akan lagi melayani pelanggan United."
Pernyataan itu berlanjut dengan mengatakan bahwa United tidak mentolerir "perilaku yang diskriminatif – atau yang tampak diskriminatif" dan mengatakan bahwa karyawan yang berinteraksi dengan pelanggan telah dilatih mengenai layanan pelanggan dan pelatihan kepekaan budaya.
Shuttle America dimiliki oleh Republik Airways, yang terikat kontrak dengan United. Dari pernyataan United tidak jelas jika pramugari tersebut telah dipecat atau hanya dilarang dari pesawat United, atau hanya tidak "melayani pelanggan" di pesawat.
Ahmad, yang merupakan direktur keterlibatan antar agama dan rekan pembimbing di Northwestern University, tidak segera meminta untuk mengeluarkan komentar balasan kepada NBC News.
Deddy | NBC | Jurniscom



