Hikmah

Wahai Nabi, Kini Aku di Sampingmu

MADINAH — Di musim haji 2017 ini, cuaca di Madinah cukup terik. Siang hari mencapai 40 derajat Celcius, sementara malam hari hanya turun menjadi 38-39 derajat Celcius. Subuh di Indonesia yang biasanya menghadirkan hawa sejuk, kini di Madinah ia hadir bersama hembusan angin yang lumayan menyengat wajah.

Namun bagi jamaah umrah atau haji—yang memang sejak di Indonesia sudah dikondisikan untuk menerima segala beban fisik, kondisi itu tak menyurutkan langkah. Termasuk 123 orang jamaah haji undangan Kedubes Arab Saudi yang diberangkatkan melalui Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah, Jakarta.

Tiba di Madinah sebelum memulai rangkaian ibadah Haji tamattu’, jamaah melaksanakan shalat lima waktu di Masjid Nabawi. Jarak antara masjid dengan hotel tempat menginap sekitar 1,5 KM. Cukup jauh untuk pejalan kaki—apalagi bolak-balik. Namun, ini adalah Madinah Al-Munawarah.

Kota tempat Masjid Nabawi, yang pahala shalat dilipatgandakan seribu kali. Masjid, yang di dalamnya ada pintu surga bernama Raudhah, tempat semua doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan. Kota tempat Nabi SAW dan para shahabatnya bersemayam dari dunia fana—setelah merampungkan seluruh tugas dengan gemilang.

Di musim haji seperti sekarang ini, Masjid Nabawi hampir tak pernah mengenal kata lengang. Kalau mau mendapatkan tempat di dalam inti masjid, setidaknya dua jam sebelum adzan berkumandang, Anda harus menempatkan diri. Kalaupun sudah mendapatkan shaf yang baik (apalagi shaf awal), “perjuangan” (baca: kesabaran) belum selesai diuji.

Meski samping kanan-kiri kita sudah ada jamaah lain, tapi begitu terlihat celah sedikit saja, ada saja jamaah lain yang mencoba “menyusup,” terutama tetamu Allah yang datang dari Afrika. Jangankan orang Indonesia yang terkenal sering pekewuh dan mengalah, orang Pakistan maupun orang Eropa saja hanya bisa protes dengan menunjukkan muka masam.

Mereka dengan pede menggelar sajadah di antara shaf yang sudah rapat, lalu takbiratul ihram. Kalau sudah begitu, apa yang bisa Anda perbuat? Apalagi bagi yang memiliki sikap tepo-seliro dan sifat mengalah yang tinggi. “Ada Nabi SAW bersemayam di sini. Tidak baik untuk bikin ribut-ribut. Pamali!”

Tetamu Allah dari benua Afrika memang cukup mendominasi. Dari yang dijumpai Penulis, jamaah asal Nigeria dan Ghana paling banyak dijumpai selain juga Mali dan Sudan. Berkulit gelap dan postur tubuh rata-rata di atas orang Indonesia, jangkauan langkah saat mereka berjalan juga lebih panjang. Melihat penampilan mereka, kita mungkin akan langsung teringat sosok Bilal bin Rabah.

Salah satu shahabat yang mulia, yang hanya tahu cara mempertahankan keislaman—di tengah siksaan kafir Quraisy—dengan sebatas ucapan “Ahad.. ahad.” Bilal, muadzin khusus Nabi Muhammad SAW. Suaranya mengundang orang-orang untuk hadir di masjid ini untuk melaksanakan shalat. Namun suara emas itu hilang, seiring kepergian Nabi SAW ke alam barzakh. “Adzanku hanya untuk Nabi SAW,” tuturnya saat itu. Semoga Allah merahmati Bilal.

Namun ada yang patut disayangkan dari mereka. Hasrat kuat mereka untuk meraih keutamaan amal, sering terasa mengganggu ibadah jamaah lain. Saat askar mengatur jumlah jamaah yang hendak masuk Raudhah, seringkali terdengar suara kegaduhan di antara mereka. Begitu dipersilakan masuk, tak jarang terdengar kaki-kaki bising berlari bak lomba marathon.

Pemandangan yang tak jauh berbeda juga dapat dilihat ketika pintu Babus Salam, pintu masuk untuk melintas di depan makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA. Bila saat tertinggal jamaah shalat wajib kita tetap diharuskan memasuki masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, mereka malah setengah berlari. Padahal dekat pintu makam tertulis besar-besar ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman , janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (AlHujurat, 49:2)

Cerita “unik” di atas hanya bertujuan untuk membagi pengalaman semata. Berbicara soal Madinah dan Masjid Nabawi, terlalu sayang kalau semangat berburu amal kebaikan kemudian surut oleh “keunikan-keunikan” di atas. Apalagi kita yakin Allah Maha Mendengar dan Mengetahui setiap kehendak, maksud dan keinginan kita.

Lantunan doa yang lirih kita panjatkan dengan sepenuh hati, Allah Maha Kuasa untuk mengabulkannya meski kita berada di luar Raudhah. Salam dan shalawat yang kita lambaikan saat melintas di depan makam Nabi Muhammad SAW dan dua shahabatnya, tetap akan tercatat sebagai amal kebaikan, meski kita tidak berada di jalur terdekat dengan makam tersebut.

Bisikkan dengan nada penuh kerinduan, “Wahai Nabi, ini aku telah hadir. Aku berada di samping kuburmu!” Kenanglah segala sesuatu yang pernah Anda ketahui tentang dirinya, dan barisan shahabatnya yang setia menemani dalam suka maupun duka. Di sela-sela shalat, doa dan membaca Al-Quran, renungilah, bahwa dari tempat inilah cahaya Islam terpancar ke seluruh dunia.

Kalaulah hijrah ke Madinah tidak Allah wajibkan, tak mungkin kita sampai ke tempat ini. Kita mungkin masih menjadi mayat-mayat berjalan—makhluk yang jiwanya kosong dari cahaya keimanan, namun fisiknya masih hidup. Ya, di sini. Di masjid inilah seluruh kejayaaan Islam bermula.

Tony Syarqi | Islamic News Agency (INA)

Related Articles

Back to top button