Pemimpin Muslim Kashmir Perpanjang Aksi Pro Kemerdekaan, Tolak Kekuasaan India

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Kepemimpinan pro-kemerdekaan Kashmir telah memutuskan untuk memperpanjang aksi empat bulan menentang kekuasaan India setelah pertemuan panjang dengan aktivis masyarakat sipil dan pengusaha, lansir World Bulletin, Selasa (08/11/2016).
“Semua orang dalam pertemuan itu mengatakan bahwa kepemimpinan harus melanjutkan perjuangan saat ini,” Yasin Malik, pemimpin Front Pembebasan Jammu dan Kashmir (the Jammu and Kashmir Liberation Front) mengatakan pada akhir pertemuan. “Ini adalah gerakan rakyat dan selama rakyat ingin melanjutkannya, maka akan berlanjut.”
Pertemuan ini diselenggarakan oleh Malik bersama Syed Ali Shah Geelani dan Mirwaiz Umar Farooq, para pemimpin dua faksi Konferensi Hurriyat (Hurriyat Conference) yang pro-kemerdekaan dan dihadiri oleh pedagang, guru, transporter, pegawai pemerintah, pemimpin agama dan politik, pengacara dan anggota masyarakat sipil lainnya.
Agitasi yang sedang berlangsung terhadap kekuasaan India adalah salah satu protes yang terpanjang di wilayah yang disengketakan, yang telah melakukan protes serupa di masa lalu.
Menurut sumber di kepolisian, pemerintah yang didukung India di wilayah tersebut mengizinkan pertemuan berlangsung dengan harapan pertemuan itu akan mengakhiri aksi protes.
Sedikitnya 90 warga sipil telah tewas dan lebih dari 10.000 lainnya terluka, menurut angka yang dikeluarkan oleh departemen kesehatan di kawasan itu, selama pasukan India menindak keras protes.
Kerusuhan terbaru dimulai pada tanggal 8 Juli, ketika puluhan ribu orang berkabung untuk seorang komandan militan Kashmir berusia 21 tahun.
Sejak itu, Kashmir meluncurkan protes selama 121 hari dan pemerintah India merespon dengan jam malam yang ketat, pembatasan komunikasi dan pembekuan beberapa media.
Menurut rincian dari polisi, lebih dari 7.000 warga sipil, termasuk aktivis hak asasi manusia, telah ditangkap karena berpartisipasi dalam demonstrasi pro-kemerdekaan.
Kashmir, wilayah Himalaya yang mayoritas Muslim, dipegang oleh India dan Pakistan di beberapa bagian dan diklaim oleh kedua Negara secara penuh.
Kedua negara terlibat tiga kali perang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – setelah mereka dipisahkan pada tahun 1947, dua diantara perang tersebut memperebutkan Kashmir.
Sejak tahun 1989, kelompok-kelompok perlawanan Muslim Kashmir di wilayah Kashmir yang dikuasai India (Indian Held Kashmir-IHK) telah memperjuangkan kemerdekaan melawan kekuasaan India, atau untuk penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.
Lebih dari 70.000 orang telah dilaporkan tewas dalam konflik sejauh ini, sebagian besar dari mereka oleh pasukan bersenjata India. India mempertahankan lebih dari setengah juta pasukannya di wilayah yang disengketakan.




