Jurnalis Surat Kabar Pertama, Rohana Kudus Jadi Pahlawan Nasional

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Aktivis sekaligus jurnalis perempuan asal Sumatra Barat (Sumbar) Rohana Kudus ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun ini.
Kepastian diperoleh melalui surat keputusan Kementerian Sosial RI yang dikeluarkan pada Kamis (7/11).
“Usulan almarhumah Rohana Kudus menjadi pahlawan nasional telah disetujui setelah adanya pertemuan Dewan Gelar dan Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Bapak Presiden RI Joko Widodo, Rabu (6/11),” kata Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial, Pepen Nazaruddin.
Penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk Rohana Kudus ini akan dilaksanakan hari ini, Jumat (8/11), di Istana Negara, Jakarta. Nantinya, penganugerahan ini akan diberikan kepada ahli waris dan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.
Rohana Kudus diketahui lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumbar, 20 Desember 1884. Pejuang di zaman penjajahan ini meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972, pada usia 87 tahun. Selama hidup, Rohana dikenal sebagai wartawan yang vokal memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di bidang pendidikan.
Pada 1911 Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan, Rohana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Ketika diberedel pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar bernama Sunting Melayu yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.
Rohana hidup sezaman dengan RA Kartini. Saat itu, akses perempuan untuk mendapat pendidikan sangat dibatasi pemerintah kolonial.
Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda.
Rohana pun memelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.




