Internasional

Oposisi Moderat: Putaran Pertama Pembicaraan Damai Tanpa Hasil karena Ulah Rezim

JENEWA (Jurnalislam.com) – Pembicaraan damai di Jenewa untuk menyelesaikan krisis Suriah tidak membuat kemajuan apapun karena ulah delegasi rezim Suriah, perwakilan oposisi Suriah mengatakan, lansir Anadolu Agency, Kamis (24/03/2016).

"Kami belum benar-benar mencapai apa-apa pada pembicaraan ini, karena rezim dan timnya ada di sini," Salim al-Muslat, juru bicara Komite Tinggi Negosiasi oposisi, mengatakan kepada Anadolu Agency di Jenewa, Kamis.

Putaran pertama pembicaraan damai di Jenewa, yang dimulai pada tanggal 14 Maret, berakhir tanpa hasil, Kamis. Putaran berikutnya diharapkan mulai pada awal April.

Al-Muslat mengatakan rezim tidak menganggap pembicaraan damai tersebut secara serius dan hanya membuang-buang waktu di Jenewa.

"Jenewa bukan tempat untuk membahas dataran tinggi Golan dan isu-isu lain yang tidak berkaitan dengan negosiasi Suriah. Kami mencoba untuk menyelamatkan rakyat Suriah dari bom barel tetapi mereka malah ingin berbicara tentang isu-isu non-logis," katanya.

"Orang-orang sudah sekarat di Suriah setiap hari. Teror menghantam negara-negara tetangga, Ankara, Istanbul, Brussels. Sudah cukup! Kita tidak boleh kehilangan nyawa lagi di Suriah, di Turki dan negara-negara lain," tambahnya.

Al-Muslat mengatakan banyak warga Suriah di Turki tetapi mereka harus kembali ke Suriah suatu hari nanti.

"Turki membuka hati untuk para pengungsi," katanya.

"Dua masalah harus dibicarakan dalam pertemuan itu: kendala yang rezim letakkan terhadap proses di Jenewa dan tahanan (di Suriah), terutama perempuan dan anak-anak," katanya.

Al-Muslat juga mengatakan Kerry telah berjanji untuk membawa isu tahanan untuk agenda di Moskow.

Dia mengatakan rezim Assad menahan hampir 500.000 tahanan.

Al-Muslat mengatakan Assad tidak boleh berperan dalam masa depan dan pada proses transisi Suriah.

"Jika dia tetap ada, orang akan terus mati. Suriah tidak ingin melihat lebih banyak kematian dan teror. Ini adalah waktu bagi Assad untuk pergi," katanya.

Bulan lalu, Rusia dan AS setuju atas perjanjian penghentian perperangan di Suriah, yang membuka jalan bagi kelanjutan pembicaraan; Namun, itu hanya berlaku selama dua minggu, menurut oposisi moderat Suriah.

Rezim Assad, yang didukung oleh komunis Rusia dan milisi sekte Syiah Hizbullah Lebanon, telah turut campur atas serangan berlanjut di Suriah dari udara dan darat.

Pada bulan Juni 2012, konferensi Jenewa tentang Suriah telah menyerukan pembentukan sebuah pemerintahan transisi, menjaga gencatan senjata, pembebasan tahanan dan memberikan bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah yang terkepung.

Suriah telah terkunci dalam perang global yang kejam sejak awal 2011 ketika rezim Assad membantai protes warga dengan kebrutalan tak terduga.

Sejak itu, lebih dari 250.000 orang telah tewas dan lebih dari 10 juta lainnya menjadi pengungsi, menurut hitungan PBB.

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button