The International Human Rights Watch: Pemerintahan Kabul Biarkan Pasukannya Bunuh Warga Sipil
KABUL (Jurnalislam.com) – The International Human Rights Watch (HRW) telah meminta pemimpin boneka Kabul Administration, Ashraf Ghani, dalam sebuah pernyataan Senin lalu bahwa ia seharusnya tidak berdiam diri saat Kepala Angkatan Darat-nya mengatakan: "Hukum konflik bersenjata tidak berlaku untuk prajuritnya". El Emarah News melaporkan Sabtu (04/07/2015).
Menurut pernyataan itu, yang disebut Kepala Tentara Administrasi Kabul, Qadam Shah Shaheem, mengatakan kepada tentaranya di provinsi Badakhshan pada 14 Juni, bahwa tidak ada pembatasan penggunaan senjata berat saat melawan Mujahidin dan juga tidak ada pembatasan serangan malam. Para prajurit tidak akan dikirim ke penjara karena mereka mempersembahkan pengorbanan.
The International Human Rights Watch mengatakan bahwa pernyataan seperti itu akan menyebabkan korban sipil. Yang juga mengejutkan HRW adalah Ashraf Ghani diam saja menanggapi hal ini sementara ia menganggap dirinya sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata.
Pernyataan HRW lebih lanjut mengatakan, ini bukan pertama kalinya bahwa Kepala Angkatan Darat Administrasi Kabul yang baru memberikan komentar terhadap hukum perang, seperti sebelumnya Kepala Polisi Kandahar Abdul Razaq, Kepala Kepolisian Baghlan Aminullah Amirkhel dan Kepala Kepolisian District Hisarak Abdul Khaliq Maroof juga memerintahkan pasukannya bahwa setiap menahan Mujahidin, tidak boleh membiarkan mereka tetap hidup!
Komandan dan Kepala Angkatan Darat tersebut bukan satu-satunya pejabat yang telah memberikan pernyataan seperti itu. Beberapa waktu lalu Menteri Dalam Negeri Olumi juga mengucapkan pernyataan sejenis.
Bukan merupakan hal yang aneh dan tidak biasa bahwa pejabat dari Administrasi Kabul mengucapkan pernyataan tersebut dan para pemimpin mereka hanya diam karena mereka melakukan kekejaman seperti itu setiap hari. Yang tidak biasa adalah bahwa HRW meminta Ashraf Ghani untuk mengecam pernyataan dari Qadam Shah tetapi tidak direspon.
Jika kita melihat kenyataan kita akan menemukan bahwa sejak awal pembentukan Administrasi Kabul sampai sekarang mereka tidak hanya melanggar hukum perang, tetapi juga menentang semua aturan dan nilai-nilai kemanusiaan dan Islam.
Situasi ini masih terus berlanjut. Rencana militer dan personil mereka yang mengambil akar dari pelatihan Barat tidak berkomitmen untuk setiap manusia, Islam dan nilai-nilai nasional, serta juga tidak merasakan adanya rasa tanggung jawab.
Mereka terlibat dalam kekejaman, kekerasan, tindakan asusila terhadap manusia dan menggunakan serta memperdagangkan obat-obatan. Mereka haus darah dan mendapatkan kesenangan menumpahkan darah orang.
Ini menunjukkan wajah asli Ashraf Ghani yang biasanya mengucapkan pernyataan manis dan menarik tentang perdamaian, kemakmuran dan aturan hukum tetapi praktis terdiam di depan kejahatan perang seperti yang terjadi di bawah hirarki komandonya. Hal ini juga memperlihatkan fakta siapa yang sebenarnya bertanggung jawab untuk sebagian besar korban sipil.
Selanjutnya, bukannya hanya menerbitkan laporan, seharusnya organisasi hak asasi manusia internasional dan badan terkait lainnya membantu bangsa Afghanistan dan Imarah Islam secara luas untuk memperoleh kebebasan dan perlindungan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan nyata. Sehingga bangsa Afghanistan akan terhindar dari mimpi buruk pendudukan dan menjalani hidup mandiri dan sejahtera di bawah bayang-bayang keyakinan dan aspirasi mereka.
Deddy | Shahamat | Jurniscom



