Internasional

Pemimpin Gerakan Islam Palestina: "Al-Aqsha Tidak Akan Pernah Dibagi"

PALESTINA (Jurnalisalm.com) – Syeikh Raed Salah, pemimpin Gerakan Islam dalam melawan Israel, mengatakan pada hari Selasa bahwa ia akan menolak segala upaya otoritas Israel untuk membagi kompleks Masjid Al-Aqsha di Yerusalem Timur antara jamaah Muslim dan Yahudi, World Bulletin melaporkan, Kamis (01/10/2015).

Ketegangan telah meningkat baru-baru ini karena Israel memberlakukan pembatasan terhadap jamaah Muslim Palestina yang ingin memasuki kompleks Al-Aqsha, yang mengakibatkan beberapa bentrokan antara jamaah Muslim Palestina dengan pasukan penjajah Israel.

Bagi umat Islam, Al-Aqsha merupakan tempat suci ketiga di dunia. Sedangkan Yahudi mengklaimnya sebagai tempat dua candi Yahudi di zaman kuno.

Beberapa kelompok ekstremis Yahudi telah bertindak jauh dengan menyerukan penghancuran Masjid Al-Aqsha sehingga sebuah kuil Yahudi dapat dibangun di tempatnya.

Salah, ikon perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel selama puluhan tahun, menegaskan bahwa "ancaman Israel" tersebut tidak akan menghentikan perlawanan Palestina dalam melaksanakan "tugas suci" melindungi Al-Aqsha.

Pada hari Selasa, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa pasukan keamanan Israel mungkin telah menggunakan kekuatan yang berlebihan terhadap warga Palestina dalam bentrokan baru-baru ini di kompleks masjid.

Pada hari Ahad, warga Palestina bentrok dengan pasukan keamanan Israel di dalam kompleks masjid, dengan pasukan Israel menggunakan granat setrum dan peluru karet untuk membubarkan warga Palestina.

Pada satu titik, pejuang pejuang Al Aqsha memblokir pintu masuk kompleks di tengah isu bahwa ekstremis kelompok Yahudi merencanakan untuk memaksa masuk ke daerah tersebut dalam jumlah besar pada hari terakhir hari raya Muslim, Idul Adha, yang bertepatan dengan dimulainya hari raya Sukkot Yahudi.

Al-Aqsha telah lama menjadi titik pertempuran antara Palestina dan pasukan Israel secara turun temurun.

Saat ini, penggunaan bangunan masjid dibatasi oleh Yahudi Israel untuk kaum Muslimin. Beberapa warga Palestina menuduh pemerintah Israel berencana untuk melembagakan skema partisi dimana orang orang Yahudi akan diberikan akses ke beberapa bagian dalam Masjid selama berjam-jam di hari-hari tertentu.

Israel menduduki Yerusalem Timur, di mana Al-Aqsha berada, selama Perang Timur Tengah tahun 1967. Israel kemudian mencaplok kota suci pada tahun 1980, mengklaimnya sebagai ibukota negara Yahudi yang memproklamirkan diri sendiri dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Pada September 2000, kunjungan ke Al-Aqsha oleh pemimpin kontroversial Israel, Ariel Sharon, memicu "Intifada Kedua", yaitu pemberontakan rakyat melawan penjajah zionis Yahudi Israel di mana ribuan warga Palestina tewas.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button