Moskow Kirim Utusan PBB untuk Pembicaraan Damai Setelah Aleppo Hancur Lebur Dibom Rusia
SURIAH (Jurnalislam.com) – Upaya putus asa untuk menyelamatkan gencatan senjata Suriah bergeser ke Moskow pada hari Selasa karena kota kedua Suriah, Aleppo, hancur lebur akibat serangan terbaru Rusia dan rezim Assad.
Seperti yang dilansir World Bulletin, Selasa (03/05/2016), Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan utusan PBB Staffan de Mistura di ibukota Rusia dalam upaya terakhir untuk menyelamatkan perundingan perdamaian yang telah dirusak oleh Rusia dan rezim dalam pertempuran sengit di sekitar Aleppo.
Pembicaraan tingkat tinggi tersebut mengikuti diplomasi di Jenewa saat Menteri Luar Negeri AS John Kerry menambahkan upaya untuk memperbaiki gencatan senjata yang gagal.
Kerry mengatakan situasi di negara yang dilanda perang itu "dalam banyak hal di luar kendali dan sangat mengganggu" saat gencatan senjata dua-bulan yang dibuat Washington dan Moskow terancam gagal.
Pertempuran berlanjut di dan sekitar Aleppo, di mana lebih dari 250 warga sipil tewas dalam serangan udara lebih dari seminggu.
Washington menuduh Rusia atas tindakan serangannya dan pasukan rezim Suriah Bashar al-Assad di sekitar Aleppo.
Moskow menegaskan awal pekan ini bahwa mereka tidak akan meminta rezim Suriah untuk menghentikan serangan udara di Aleppo karena mereka percaya bahwa mereka membantu untuk memerangi kelompok-kelompok jihad di sana.
Sejak itu, Rusia mengklaim pembicaraan sedang berlangsung untuk memasukkan provinsi Aleppo ke dalam "keheningan rezim (regime of silence)" – yaitu pembekuan pertempuran.
Untuk menunjang gencatan senjata, Washington dan Moskow telah sepakat untuk meningkatkan jumlah monitor gencatan senjata yang berbasis di Jenewa, Kerry mengatakan kepada wartawan, berjanji untuk bekerja "di jam berikutnya" untuk mengekang kekerasan.
Kerry menuduh rezim Assad sengaja menargetkan tiga klinik dan sebuah rumah sakit besar pekan lalu, yang digambarkan sebagai "kekejaman".
Kerry mengatakan sekelompok monitor pendukung gencatan senjata akan melacak pelanggaran selama "24 jam sehari, tujuh hari seminggu".
Seorang diplomat senior AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa Amerika Serikat, Rusia dan PBB telah bergerak maju pada mekanisme gencatan senjata baru untuk Aleppo, tapi kesepakatan itu tidak lengkap.
Kerry mengatakan Washington akan menekan oposisi moderat untuk memisahkan diri dari faksi jihad Jabhah Nusrah di Aleppo – menyetujui tuntutan Moskow.
Rusia dan rezim Assad menggunakan keberadaan Jabhah Nusrah, yang tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata 27 Februari, sebagai alasan untuk menekan serangan mereka.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan sedikitnya 253 warga sipil – termasuk 49 anak-anak – tewas di Aleppo sejak 22 April.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyerukan gencatan senjata yang diperluas mencakup Aleppo sebagai hal yang mendesak. Kota ini awalnya tidak masuk dalam kontrak baru yang diumumkan pekan lalu untuk "membekukan" perang antara dua front utama.
Gencatan senjata telah diperpanjang sampai pukul 01:00, Rabu (2200 GMT Selasa) di Timur Ghouta, kata media Suriah, dan sampai 1:00 am Selasa di Latakia, kubu rezim Syiah Assad.
Perang Suriah meletus pada tahun 2011 setelah unjuk rasa anti rezim meningkat menjadi perang global ketika militer Assad melakukan pembantaian yang tidak terduga, menurut perhitungan Anadolu Agency konflik Suriah telah menewaskan lebih dari 360.000 orang.
Pembicaraan damai bulan lalu di Jenewa gagal membuat kemajuan, meskipun de Mistura telah menyuarakan harapan bahwa mereka dapat berlanjut bulan depan.
Deddy | World Bulletin | Jurnalislam



