Pemberontak Houthi “Siap Lakukan Pembicaraan Damai” Jika Serangan Udara Dihentikan
YAMAN (Jurnalislam.com) – Pemberontak Syiah Houthi terbuka untuk pembicaraan damai jika koalisi yang dipimpin Saudi menghentikan pemboman dan serangan udara ke arah posisi mereka, kata seorang anggota senior Houthi.
Saleh al-Sammad, yang pernah menjadi penasihat Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, mengatakan bahwa jika tawaran untuk pembicaraan diterima, negosiasi akan dimediasi oleh pihak "non-agresif."
"Kami masih berdiri dengan posisi kami yang menginginkan dialog dan kami menuntut kelanjutan meskipun segala sesuatu telah terjadi, atas dasar rasa hormat dan mengakui lainnya," kata al-Sammad, dalam jawaban melalui email ke kantor berita Reuters.
"Kami tidak memiliki kondisi kecuali menghentikan agresi dan duduk di meja dialog dalam jangka waktu tertentu … dan pihak internasional atau regional yang tidak memiliki posisi agresif terhadap kepentingan Yaman dapat mengawasi dialog," kata Sammad, tanpa menentukan siapa yang mungkin menjadi mediator.
Sammad menambahkan bahwa ia ingin sesi dialog ditayangkan kepada rakyat Yaman "sehingga mereka bisa tahu siapa yang menentang."
Al-Sammad juga mengatakan bahwa Yaman menolak kembalinya Hadi, yang melarikan diri ke Arab Saudi setelah pemberontak Houthi, mendekati basisnya di Aden, bulan lalu.
Pesawat-pesawat dan kapal tempur dari koalisi yang dipimpin Saudi telah membom pasukan pemberontak Houthi, sekutu Syiah Iran, selama 11 hari dalam upaya untuk mendorong Syiah Houthi dan mengembalikan Hadi. Pembicaraan perdamaian yang ditengahi PBB di minggu sebelumnya antara Hadi dan Houthi namun gagal.
Sebuah laporan muncul bahwa para pemberontak Houthi, yang didukung oleh unit militer, telah menguasai sebidang wilayah di kota selatan Aden, meskipun serangan udara terus terarah kepada mereka.
Pasukan pemberontak dilaporkan beringsut mendekati pelabuhan Mualla, yang dipertahankan oleh milisi dari "komite populer" yang setia kepada Hadi.
Warga melaporkan mendengar tembakan sporadis dan ledakan granat berpeluncur roket.
Summer Nasser, seorang aktivis hak asasi manusia dan juga merupakan seorang blogger, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia harus meninggalkan rumahnya di Aden karena pertempuran.
"Kondisi di sana sangat menghancurkan. Kami mendengar penembakan oleh Pemberontak Houthi di rumah-rumah, dan warga sipil yang tewas. Tidak ada listrik, air. Saya merasa krisis kemanusiaan di Aden semakin parah tiap jam," katanya.
Kota Aden, pijakan terakhir pendukung Hadi, telah terguncang oleh lebih dari sepekan bentrokan sengit antara Syiah Houthi dan loyalis Hadi.
Setidaknya diketahui 185 orang tewas dan 1.282 terluka di rumah sakit di Aden sejak 26 Maret akibat pertermpuran, direktur departemen kesehatan kota, al-Kheder Lassouar, mengatakan pada hari Sabtu.
Pada hari Sabtu, Komite Internasional Palang Merah mengatakan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk menghentikan pertempuran di daerah yang paling terkena dampak, termasuk Sanaa dan Aden.
Rusia juga menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk mendorong gencatan senjata terhadap serangan udara yang dipimpin Saudi.
Ahmed Asiri, juru bicara koalisi, mengatakan pada hari Ahad (05/04/2015) bahwa Arab Saudi "sangat berhati-hati untuk tidak menghantam warga sipil dan juga orang-orang yang akan melakukan evakuasi yang berniat untuk masuk dan melakukan pekerjaan mereka."
Beberapa pemerintah asing telah meningkatkan operasi evakuasi untuk menyelamatkan warganya dan ekspatriat lainnya dari Yaman.
India telah berhasil mengevakuasi setidaknya 1.800 warga negaranya, menurut Syed Akbaruddin, juru bicara kementerian urusan eksternal, dalam tweet pada hari Minggu seraya mengatakan bahwa pasukan mereka juga menyelamatkan setidaknya 170 warga asing dari 20 negara lain ke negara tetangga Djibouti.
Aljazair mengevakuasi 160 warganya, kantor berita negara tersebut, APS, melaporkan, dan menambahkan bahwa 40 warga Tunisia, 15 Mauritians, 8 Libya, 3Maroko, dan Palestina juga diselamatkan oleh pasukan mereka.
Perancis merilis rekaman evakuasi 44 orang asing dari Yaman, termasuk beberapa warga negara Perancis.
China, Djibouti, Mesir dan Sudan, bersama dengan dua kelompok bantuan, dijadwalkan untuk melaksanakan evakuasi sejak hari Ahad sementara permintaan dari negara lain termasuk Kanada, Jerman dan Irak sedang diproses, koalisi mengatakan.
Deddy | Aljazeera | Jurniscom

