Opini

“Grasa-Grusu”

Oleh: M Rizal Fadillah
Ketua Maung Institute

JURNIS – Setelah “genderuwo”, “sontoloyo”, dan “tabok” kini dari area istana keluar lagi kalimat “grusa grusu”. Yang terakhir ini kritik Menteri kepada Presiden. Soal koreksi atas keputusan Presiden yang disampaikan pertama oleh Yusril Ihza Mahendra tentang bebasnya Ust Ba’asyir karena telah menjalani 2/3 masa hukuman di Lapas Gunung Sindur Bogor. Presiden sendiri menguatkan pembebasan dengan alasan “kemanusiaan” melalui pernyataannya di Garut.

Akan tetapi kemudian menurut Menko Polhukam Wiranto keputusan Presiden itu tidak didasarkan pada banyak pertimbangan. Jadi “grusa grusu”.

Banyak korban dari “grusa grusu” nya Presiden. Media massa yang antusias memberitakan adalah korban. Wapres JK juga lantang membela keputusan yang tak bisa dipengaruhi oleh reaksi Australia. Cawapres KH Ma’ruf Amin memuji-muji keputusan Presiden yang sangat tepat. Menteri Agama mengangkat soal pemaafan sebagai sikap mulia. Tentu saja korban utama adalah Yusril sang pengacara. Ia melangkah dengan kuasa dan persetujuan penuh Presiden. Bebasnya Ba’asyir tinggal hitungan hari dan segala hambatan sudah diatasi, katanya.

Semestinya ia terpukul ketika pembebasan dibatalkan. Reputasi sebagai “pengacara tak terkalahkan” sangat terganggu. Jika tak ada faktor lain demi reputasi dan integritas, harusnya Yusril sudah balik badan. Mundur dari status sebagai kuasa hukum Jokowi Ma’ruf. Baru satu langkah saja “berbuat” sudah dikhianati.

Apakah benar keputusan Jokowi mengenai pembebasan Ba’asyir itu “grusa grusu” tanpa pertimbangan yang matang? Atau ini cermin dari adanya konflik kepentingan di “inner circle” Istana? Yang tahu ya kalangan itu sendiri. Hanya saja keputusan “mencla-mencle” seperti ini bukan yang pertama. Kita ingat sewaktu memilih Ma’ruf Amin sebagai pasangan Cawapres pun “grusa grusu” pula dengan menetapkan Mahfud terlebih dahulu. Komunitas Madura marah saat itu karena tokohnya dipermainkan. Meski Pak Jokowi itu bicaranya lambat tapi putusannya cepat dan secepat itu pula berubahnya. Tergantung kekuatan daya bisik dan daya tekan.

Melihat cara mengelola negara dengan pola seenaknya begini kita seperti melihat sinetron atau soap opera “opera sabun”. Serial fiksi bersambung atau berkelanjutan. Penonton selalu diajak bertanya kemana alur ceritra mengarah yang sepertinya tak berkesudahan. Menunggu “action” selanjutnya dari sang pemeran utama. Sutradaralah yang mahir memainkan perasaan penonton.

Episode Garut di samping ada pernyataan serius untuk pembebasan Ust Ba’asyir, juga ada cukur-mencukur, jongkok di sawah bersama petani, serta membeli sabun cuci. Memborong sabun cuci hingga senilai dua milyar rupiah. Kejutan Presiden membeli sabun semahal ini. Tapi ya itu entah masuk “grusa grusu” atau tidak, nyatanya “orang Istana” beda keterangan mengenai uang siapa yang digunakan untuk membayar. Kata Ngabalin itu uang pribadi Presiden, kata Pramono Anung itu uang Tim Sukses. Bawaslu konon sedang menyelidiki.

Nah, episode begini menunjukkan bahwa “opera sabun” yang sedang dimainkan dan ditayangkan itu tidak matang juga, artinya “grusa grusu”. Tapi tak apa karena hal demikian sudah menjadi kebiasaan. Rakyat kita pun mungkin dulu tahun 2014 memilih Presiden dengan “grusa grusu” pula, dan terpilihlah Presiden Republik Indonesia Bapak “grusa grusu”.

“Hidup grusa grusu..!”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button