Jubir Koalisi : Houthi Harus Membayar dengan Harga Keras dan Mahal
ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Juru bicara untuk pasukan Arab bersumpah bahwa koalisi akan memberikan "tanggapan yang keras" untuk pemberontak Syiah Houthi setelah menyerang warga Saudi, dan tidak akan terikat oleh batasan, Aljazeera melaporkan Kamis (07/05).
"Ini persamaan yang berbeda, konfrontasi yang berbeda, dan mereka harus membayar harga yang keras dan mahal," kata juru bicara koalisi Brigadir Jenderal Ahmed al-Asseri kepada wartawan.
"Keamanan Arab Saudi adalah prioritas utama bagi koalisi dan angkatan bersenjata Saudi. Mereka telah melanggar garis merah."
Komentar Asseri terjadi beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengusulkan gencatan senjata selama lima hari dalam perang Yaman untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan bagi warga sipil, tetapi hanya dengan syarat bahwa para pemberontak Houthi juga menghentikan pertempuran.
Itu berarti koalisi negara-negara Arab akan menghentikan serangan udara "di seluruh Yaman."
Tanggal pasti gencatan senjata akan diumumkan "segera," kata Jubeir, menambahkan bahwa hal itu hanya akan berlaku segera setelah pemberontak Houthi setuju dan juga menghentikan serangan.
"Akan ada gencatan senjata di mana-mana, atau tidak akan ada gencatan senjata di manapun," kata Jubeir.
Pengumuman ini datang sehari setelah pertempuran mematikan di kota pelabuhan selatan Yaman, Aden, yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 120 orang.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera dari ibukota Yaman, Sanaa, aktivis Houthi dan pendukung Hussain al-Bukhaiti, mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa mereka akan menerima proposal gencatan senjata.
Tapi gencatan senjata tidak berarti bahwa suku Yaman akan menarik diri dari wilayah yang mereka kuasai di dekat perbatasan dengan Arab.
Bukhaiti juga mengatakan bahwa Houthi terbuka untuk mediasi yang ditengahi oleh Oman.
Sementara itu, Human Rights Watch yang berbasis di New York melaporkan pada Kamis bahwa pasukan pro-Houthi menembak dan menewaskan dua wanita dan menyandera para pekerja bantuan di Aden, mengisyaratkan kemungkinan terjadinya kejahatan perang
Kelompok hak asasi mengatakan insiden yang terjadi bulan lalu, adalah contoh ancaman besar bagi warga sipil di kota pelabuhan tersebut dimana pemberontak Houthi dan sekutu mereka bertempur melawan pasukan yang setia kepada Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Human Rights Watch mengatakan kedua wanita itu diserang oleh tembakan dalam insiden terpisah pada 17 dan 18April, dan meninggal sebelum kerabat bisa menemukan fasilitas medis untuk mengobati mereka.
Pasukan Pro-Houthi juga secara tidak sah menahan 10 pekerja bantuan lokal selama 14 hari, membebaskan dua orang setelah pembayaran dilakukan. Serangan yang disengaja terhadap warga sipil dan menyandera adalah kejahatan perang, kata kelompok itu.
Human Rights Watch mengidentifikasi korban sebagai Sabreen al-Aboos, 20, dan Neveen al-Taib, 42.
Meskipun pemboman udara terhadap posisi Houthi telah berlangsung berminggu-minggu, konflik tidak menunjukkan tanda berakhir.
Pemberontak Houthi – secara luas diyakini didukung oleh Iran – menyapu Sanaa pada bulan September dan telah mencoba untuk memperluas kendali mereka di Yaman, namun mendapat perlawanan sengit oleh cabang lokal al-Qaeda Yaman, Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).
Deddy | Aljazeera | Jurniscom



