Kurang dari Sepekan 200 Warga Aleppo Tewas oleh Serangan Brutal Rezim Assad dan Rusia

SURIAH (Jurnalislam.com) – Petugas rumah sakit berjuang di Aleppo, saat jet tempur rezim Suriah dan Rusia terus membom kota yang dikuasai para pejuang Suriah di timur Aleppo, menewaskan lebih dari 200 orang dalam waktu kurang dari sepekan, lansir Aljazeera Senin (26/09/2016).
Reporter Al Jazeera Amr al-Halabi, melaporkan dari sebuah rumah sakit darurat di kota, menggambarkan sebuah situasi suram saat rumah sakit penuh sesak dengan puluhan orang tewas dan terluka.
“Orang yang sudah mati berada di lantai rumah sakit darurat ini,” kata Halabi. “Situasi di sini sangat putus asa.”
Mayat-mayat memenuhi lantai di dalam dan di luar fasilitas, saat relawan dan kerabat menolong orang-orang yang terluka dalam, mencari ruang untuk menempatkan mereka di atas lantai yang sudah penuh dengan korban serangan udara.
“Tidak ada cukup ruang bagi kita. Kita harus segera pergi untuk membuat lebih banyak ruang untuk mereka yang terluka,” kata Halabi saat ambulans berdatangan mengangkut korban yang tewas dan terluka memadati bangsal rumah sakit.
“Suasananya seperti hari penghakiman,” katanya.
Pada pertemuan darurat PBB pada hari Ahad, AS, Inggris dan Prancis mengatakan Rusia sebagai pendukung militer utama rezim Suriah Bashar al-Assad dalam melakukan kejahatan perang.
“Yang dilakukan Rusia bukan mensponsori dan melakukan kontra-terorisme. Ini adalah tindakan barbar,” kata Duta Besar AS Samantha Power.
“Sulit untuk menyangkal bahwa Rusia bermitra dengan rezim Suriah untuk melaksanakan kejahatan perang,” kata Duta Besar Inggris Matthew Rycroft, menambahkan bahwa persenjataan teknologi tinggi telah menimbulkan “neraka baru” pada Suriah yang sudah lelah berperang.
Sejak kesepakatan gencatan senjata berakhir pekan lalu, rezim Suriah Assad dan Rusia telah meningkatkan rentetan serangan udara yang ditujukan untuk mengambil alih wilayah timur kota dari kelompok pejuang.
Duta Rusia Vitaly Churkin mengakui bahwa lonjakan serangan selama beberapa hari terakhir berarti bahwa “membawa perdamaian adalah hampir mustahil sekarang.”
Tapi Churkin menyalahkan runtuhnya gencatan senjata kepada AS, menuduh Washington tidak mampu meyakinkan kelompok oposisi yang didukung AS untuk menjauhkan diri dari kelompok Jihad Jabhat Fath al Syam – yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah dan tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata – dan mematuhi gencatan senjata.
Setelah pusat komersial Suriah, Aleppo telah dirusak oleh pertempuran dan dibagi sejak pertengahan 2012 antara kontrol rezim syiah Assad di barat dan kontrol oposisi di timur.
Wilayah timur telah dikepung ketat dan berkelanjutan sejak pertengahan Juli, menyebabkan kekurangan makanan dan bahan bakar. Serangan pada instalasi air dari kedua belah pihak menyebabkan lebih dari dua juta warga sipil tanpa air.
“Tak satu pun dari toko roti bisa beroperasi lagi karena pemboman dan kekurangan bahan bakar dan tepung, sehingga orang-orang mulai membuat roti mereka sendiri,” Imad Habush, 30 tahun, dari lingkungan Bab al-Nayrab mengatakan kepada kantor berita AFP.
“Saya tidak tahu mengapa rezim membom kami dengan cara barbar ini. Kami di sini warga sipil. Kami tidak membawa senjata, dan kami dikepung. Kami tidak memiliki cara untuk melarikan diri.”
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon juga telah memperingatkan penggunaan persenjataan canggih terhadap warga sipil bisa dituduh melakukan kejahatan perang.
Ban menyerukan kekuatan dunia untuk “bekerja lebih keras mengakhiri mimpi buruk” di Suriah yang telah memaksa hampir setengah dari penduduk negara itu meninggalkan rumah mereka dan menewaskan ratusan ribu lainnya.

