Internasional

Turki Tuntut PBB Selidik Pelanggaran HAM Berat Milisi YPG di Suriah

JENEWA (Jurnalislam.com) – Turki pada hari Senin menyerukan kepada PBB untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia berat yang dilakukan di Suriah oleh organisasi teror YPG, cabang bersenjata PYD, yang merupakan afiliasi ektremis PKK Suriah, lansir Anadolu Agency Senin (19/09/2016).

“IS merupakan ancaman besar bagi wilayah tersebut dan sekitarnya. Teror adalah musuh kita bersama, dan tekad Turki untuk memerangi terorisme tetap teguh. Kami juga ingin menarik perhatian atas pelanggaran serius hak manusia yang dilakukan oleh YPG, yang membutuhkan penyelidikan lebih rinci dan terpisah,” duta Besar Turki untuk kantor PBB di Jenewa, Mehmet Ferden Carikci, mengatakan kepada Dewan HAM PBB di Jenewa.

“Tindakan YPG yang seperti mencoba mengubah demografi dan menculik politisi Kurdi lokal dapat menyebabkan Suriah berantakan,” ia memperingatkan.

Meskipun terdapat resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan, rezim Suriah terus memblokir akses kemanusiaan tanpa ada yang menghalangi, Carikci menegaskan, “Mekanisme Investigasi Bersama PBB baru-baru ini menegaskan bahwa rezim Suriah bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia dalam sedikitnya dua kasus, yang merupakan sebuah kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Rezim memiliki pola pikir yang sama seperti IS, yang juga menggunakan senjata kimia.”

“Laporan ini juga merupakan bukti kejahatan rezim Suriah,” tambahnya.

Juga berbicara di hadapan dewan, Paulo Sergio Pinheiro, ketua Komisi Independen Internasional Penyelidikan mengenai Suriah PBB (UN Independent International Commission of Inquiry on Syria), mengatakan: “Saat pengungsi Suriah semakin meninggalkan daerahnya, semakin sulit untuk mengakses informasi baru dari korban dan saksi. Kami meminta kepada negara-negara Eropa yang menjadi tuan rumah bagi pengungsi Suriah yang baru tiba untuk memberikan akses bagi kami dan menghapus hambatan untuk membantu pekerjaan kami.”

“Politisasi bantuan kemanusiaan oleh pihak manapun dalam konflik tidak boleh. Karena, seperti yang telah kita saksikan beberapa kali dan sekali lagi, penghalang jalan yang terbuat dari pita merah sama efektif dengan penghalang jalan yang terbuat dari senjata perang,” tambahnya.

“Sejak awal tahun, 71 fasilitas kesehatan telah diserang. Di Aleppo saja, 25 rumah sakit dan klinik sengaja diserang hingga menjadi puing-puing, kebanyakan oleh serangan udara,” katanya.

Pinheiro menekankan bahwa, “Semua pihak harus menghormati gencatan senjata yang baru,” katanya, “Seolah-olah tidak cukup dramatis, pada awal September situasi di Aleppo diperparah dengan ditutupnya dua akses jalan ke kota yang terakhir, yang secara efektif sama saja dengan mengurung 275.000 warga sipil disana.”

 

Related Articles

Back to top button