
Oleh: Dr H. Mohammad Ghozali, MA[1]

Terhenyak kembali seluruh rakyat di Indonesia, nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar sudah menembus Rp 15.029 per dollar, atau level terendah sejak krisis 1998 sekitar pukul 19.40 WIB. Yang sebelumnya di dahulu dengan Turki dan Argentina yang merembet ke negara berkembang menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar global.
Pertanyaan yang segera di carikan solusinya.Pertanyaan yang muncul adalah kenapa hal ini bias terjadi. Sedang setiap negara terbangun imej, mereka semua telah berdaulat?
Hal ini diberitakan beberapa media di Indonesia akhir akhir ini, penyebab Nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar sudah menembus Rp 15.029 per dollar, atau level terendah , “Akibat investor menghindari risiko dengan membeli aset berdenominasi dolar. Indikatornya US Dollar index naik 0,13 persen ke level 95,2. Dolar index merupakan perbandingan kurs dolar AS dengan 6 mata uang lainnya,” Tribunnews.com, Selasa (4/9/2018).
Nampak sekali dominasi adikuasa negara kapitalisme, dimana sistem ekonomi yang melingkupi perdagangan, industri dan alat-alat produksi, dikendalikan oleh pemilik swasta (Asing) dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Pihak pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan rakyat bersama,.
Pada konsep Imperialisme (al isti’mar) merupakan pemaksaan dominasi (fardhu saytharah) di bidang politik, ekonomi, militer, dan budaya kepada negara-negara yang didominasi, untuk kemudian dieksploitasi (istighlal). Ringkasnya, imperialisme senantiasa menunjukkan 2 (dua) ciri tetap, pertama, adanya pemaksaan dominasi (fardhu saytharah), dan kedua, adanya eksploitasi (istighlal). Imperialisme mempunyai berbagai macam bentuk yang senantiasa disesuaikan dengan perkembangan konstelasi politik internasional dan opini umum dunia. Pada era puncak imperialisme militer pada abad XIX dan paruh pertama abad XX, cara yang lebih banyak dipakai adalah pendudukan militer secara langsung kepada negara-negara jajahannya
Jadi masalah mereka (sistem kapitalisme) terletak pada kebutuhan manusia bukan kepada manusianya itu sendiri yaitu tersedianya sumber (alat pemuas) untuk memuaskan kebutuhan, dan bukan pada pemuasan kebutuhan tiap-tiap individu.
Dengan demikian maka barang dan jasa akan berkaitan dengan tingkat produktifitas dalam penciptaan barang dan jasa dan ini pula akan mempengaruhi masalah pendistribusian dari keduanya. Kajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya produksi nasional, menurut system kapitalisme menduduki posisi penting diantara kajian semua topik ekonomi mereka.
Oleh karena itu, selama sebuah negara masih terpaku, ketergantungan kepada negara pada asing, maka sebagai negara berdaulat tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali mengikut kebijaksanaan asing. Dengan demikian kemandirian sebagai negara berdaulat sangat diperlukan untuk menanggulangi krisis ekonomi.
[1] Dosen Senior Program Sudy Hukum Ekonomi Syariah Pasca Sarjana Universitas Darussalam Gontor




