Internasional

Bantah Laporan Pelanggaran Kemanusian Berat, Myanmar Bentuk Komisi Penyelidikan Sendiri

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Sebuah komisi yang ditunjuk pemerintah telah membersihkan pasukan keamanan Myanmar yang melakukan pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran secara sistematis terhadap Muslim Rohingya, dengan menolak laporan PBB sebelumnya atas pelanggaran yang meluas selama tindakan keras baru-baru ini, lansir Aljazeera, Ahad (6/8/2017).

Komisi tersebut memeriksa kekerasan mematikan yang dimulai di negara bagian Rakhine di barat laut pada bulan Oktober tahun lalu setelah para pejuang Rohingya menewaskan sembilan polisi dalam serangan terkoordinasi terhadap pos-pos penjagaan perbatasan di dekat Bangladesh.

Dalam operasi militer berikutnya, pasukan Myanmar dilaporkan membunuh penduduk desa secara acak, memperkosa wanita Rohingya dan membakar lebih dari 1.000 rumah.

Ratusan warga Muslim Myanmar terbunuh.

Pemerintah Myanmar Terindikasi, HAM PBB: Muslim Rohingya Butuh Penyelidik Tingkat Tinggi

Anehnya, temuan komisi tersebut dikeluarkan saat pemerintah menolak mengizinkan misi tiga anggota PBB untuk melakukan penyelidikan sendiri mengenai apakah tindakan keamanan tersebut adalah “pembersihan etnis” minoritas Muslim Rohingya yang ditolak kewarganegaraan.

Memberikan kesimpulan mereka pada hari Ahad, komisi yang didukung negara tersebut mengungkapkan bahwa setiap “tindakan berlebihan” kemungkinan dilakukan oleh “anggota pasukan keamanan” peringkat rendah.

“Beberapa laporan insiden [pelecehan] tampaknya palsu … yang lain hanya memiliki sedikit bukti,” kata komisi tersebut dalam sebuah siaran pers.

Laporan tersebut juga membidik laporan rinci oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB yang dirilis pada bulan Februari tahun ini.

Kawal Ketat Penyelidikan Kejahatan HAM Berat, 10 Pejabat Uni Eropa Tiba di Myanmar

Laporan PBB mengatakan bahwa “sangat mungkin” kejahatan terhadap kemanusiaan telah dilakukan selama tindakan keras tersebut.

“Operasi pembersihan area kemungkinan menghasilkan ratusan kematian,” kantor hak asasi manusia PBB mengatakan.

Berdasarkan wawancara dengan 204 saksi (korban) yang melarikan diri ke Bangladesh, PBB mendapatkan keterangan dari warga Muslim Rohingya bahwa pasukan Myanmar memperkosa wanita Rohingya, membunuh anak-anak dan menyiksa pria dewasa.

Komisi pemerintah Budha tersebut membantah temuan PBB tersebut, dengan berdalih bahwa “tidak ada kasus semacam itu yang ditemukan” dalam pekerjaan mereka.

Laporan tersebut juga menuduh PBB bahwa laporan PBB tidak memiliki keseimbangan dan gagal untuk mengenali beratnya serangan yang diluncurkan pejuang Rohingya.

Komisi tersebut mengakui bahwa media asing dan LSM seharusnya diberi akses ke zona tersebut selama konflik untuk menghilangkan “kesalahpahaman”.

Pemerintah Myanmar menghadapi tekanan yang meningkat dari para aktivis hak asasi manusia untuk memberi izin masuk kepada penyelidik PBB ke negara bagian Rakhine.

Seharusnya Tim PBB akan memulai pekerjaannya bulan ini, namun pemerintah Aung San Suu Kyi menolak memberikan visa kepada mereka, dengan alasan bahwa hal itu akan “memperburuk” situasi di lapangan.

John Fisher, direktur Human Rights Watch Jenewa, mengatakan pada hari Kamis bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa harus menghadapi “taktik bullying Myanmar yang mengancam penolakan visa”.

“Pemberian izin masuk [bagi tim PBB] akan memberikan tanda bahwa Myanmar siap bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk membantu mengidentifikasi pelaku kejahatan kemanusian berat, dan mencegah kejahatan pada mas ayang akan datang oleh semua pihak terhadap konflik bersenjata Myanmar,” kata direktur HRC.

Pemimpin Militer Myanmar Dukung Aksi Keras Pemerintah pada Muslim Rohingya

Muslim Rohingya dicerca di Myanmar dan banyak dipandang sebagai imigran ilegal oleh pemerintah Budha Myanmar.

Sekitar satu juta dari kaum Muslim tersebut dikepung ke zona perbatasan yang miskin di dekat Bangladesh, yang tetap dikurung dan diberlakukan jam malam oleh Militer Myanmar.

Pada hari Jumat, sampai dengan 50 “tembakan peringatan” diletupkan di sebuah desa Muslim Rohingya saat sebuah serangan.

Dalam insiden terpisah, mayat tiga pria dan tiga wanita yang membawa parang dan menderita luka tembak ditemukan di dekat kota Maungdaw di Rakhine pada hari Kamis.

Pekan lalu, tujuh pengikut Buddha ditemukan tewas di daerah konflik.

Pertempuran Kembali Meletus di Perbatasan Myanmar – China, Puluhan Tewas

Related Articles

Back to top button